Mata Alena berkaca-kaca karena selama bertahun-tahun, ia mengira menjadi kuat berarti tidak boleh menangis. Tidak boleh bergantung kepada siapa pun ddan harus sanggup menanggung seluruh penderitaan seorang diri, kini ia mulai memahami bahwa kekuatan juga berarti berani mengakui ketika dirinya lelah.Alena mendekat dan menyandarkan kepala di dada Kieran.“Aku hanya ingin hidup biasa,” bisik Alena. “Mengantar William ke sekolah, menyiapkan makan malam, bertengkar kecil denganmu karena kamu lupa membeli sesuatu, lalu tertawa lagi sebelum tidur,”Kieran terkekeh pelan. “Kalau hanya lupa membeli sesuatu, aku bisa memperbaikinya,”“Kalau lupa ulang tahun pernikahan kita?” tanya Alena. “Aku akan menerima hukuman apa pun itu,” jawab Kieran. Alena akhirnya tertawa, tawa kecil yang sederhana itu terasa begitu berharga, sebab sudah lama ia tidak mendengar suaranya sendiri tanpa dibayangi kesedihan.Kieran mengecup keningnya. “Kalau begitu, mari kita mulai dari hari ini,”Di meja makan, Willia
続きを読む