Lyra mundur satu langkah lagi. Tangannya sudah menggenggam kantong bubuk ramuan dari dalam laci.Di luar pintu, suasana tetap sunyi yang membuat nalurinya berteriak. Dia merasa yakin bahwa ada pembunuh profesional di luar sana, karena biasanya golongan mereka tidak mengancam, melainkan langsung membunuh.Terdengar suara gagang pintu bergerak perlahan.Jantung Lyra langsung berdegup kencang. “Aku tidak mengunci pintunya?” pikirnya.Tidak, ia yakin sudah menguncinya. Berarti, seseorang sedang membuka kuncinya dari luar.Keringat dingin mengalir di punggung Lyra Perempuan itu segera meraih botol ramuan lain.Satu untuk mata, satu untuk kulit, dan yang lainnya untuk pernapasan. Kalau orang itu masuk, ia hanya punya satu kesempatan.Pintu terbuka perlahan. Lalu, sesosok pria berpakaian hitam melangkah masuk. Wajahnya tertutup topeng dan aromanya asing. Namun satu hal langsung dikenali Lyra adalah aura membunuh.Tanpa menunggu sedetik pun, Lyra melempar bubuk pertama. Wussh!Pria itu terkej
Read more