Pagi itu, cahaya matahari utara merayap naik menembus gorden beludru tebal di kamar utama kediaman Aristhos, menyinari sisa-sisa gairah dan kehangatan semalam yang masih tertinggal pekat di udara. Kaelen masih mendekap Thalassa dengan cengkeraman posesif di bawah selimut sutra, menikmati napas teratur sang Duchess di dadanya. Namun, ketenangan manis itu seketika hancur berantakan oleh suara kegaduhan luar biasa dari balik pintu. BRAK! BRAK! BRAK! "BUKAAA! AYAH! BUKAAA!" Suara hantaman tangan mungil pada pintu jati tebal berukir itu terdengar brutal, disusul oleh suara isak tangis tertahan dan bisikan panik yang memelas dari balik pintu. "Lady Tatjana, tolong... jangan sekeras itu. Lord Aristhos bisa marah besar," itu suara Elena, pengasuh setia Tatjana. Suaranya bergetar hebat, terdengar hampir menangis membayangkan amarah sang Duke yang terkenal menakutkan. "Lady, mari kita ke dapur saja, ya? Ada kue jahe hangat..." "TIDAK MAU KUE! MAU IBU!" BRAK! "AYAH CURANG! IBUUU!" Di da
Magbasa pa