Kali ini Vincent makin terkejut dengan kebesaran hati Ingrid. Inilah rasa percaya diri yang dimiliki seorang pacar resmi, bukan sesuatu yang bisa dibandingkan dengan orang-orang yang mencoba merebut posisi melalui jalan yang tidak benar.Tatapannya yang suram kembali mengarah ke Gladys. Entah kenapa, hatinya jadi agak kesal. "Kamu nggak ingin menghampirinya dan menegurnya?"Sorot mata Ingrid sedikit berubah. Pada akhirnya, dia berkata dengan tenang, "Kami sama-sama perempuan. Untuk apa saling menyulitkan? Selama masih ada aku di hati Marshel, dia nggak akan kasih siapa pun kesempatan."Pada saat itu juga, cara Vincent memandang Ingrid berubah. Ada sedikit kekaguman di matanya. Tidak heran dia adalah wanita yang dipilih Marshel. Memang berbeda dari yang lain."Pak Vincent, anggap saja kita nggak lihat apa pun. Sisakan sedikit harga diri untuknya." Ingrid tersenyum manis, lalu berbalik dan pergi dengan anggun.Vincent memandangi punggung Ingrid. Murah hati, lembut, percaya diri, tidak pe
Read more