“Ayok ke gudang, cari giok yang pantes buat tanda jadi!” kata Choa Hok.Ki Lan mengerjap. “Giok, Ah Cek?”“Buat lamaran. Lu kan mau lamar Kim Lan. Gak mungkin cuma modal senyum.”Ki Lan tersenyum. Lalu mengeluarkan kantong kain dari saku bajunya.Bukan kantong sembarangan. Kain sutra, warna merah tua, diikat pita kecil. Choa Hok menerima. Membuka. Matanya membelalak.Giok. Bentuk lingkaran warna hijau kebiruan, permukaan mengkilap dengan ukiran anggrek—tanda kualitas bagus, agak mahal. Pinggiran emasnya bersih.Choa Hok bersiul kecil. “Pesanan khusus?”“Iya, Ah Cek,” jawab Ki Lan, agak malu. “Gue sengaja bikin sebulan lalu. Karena gue udah niat. Kayak niat Ah Cek dulu gak main-main sama Ah Cim. Niat.”Choa Hok diam. Lalu mengangguk. Bangga. Tanpa banyak kata.Eng Hwa yang dari tadi menganalisis wajah Kim Lan, mendekat. Matanya menyipit.“Eh, boleh tau tanggal lahir kalian?”Ki Lan dan Kim Lan kompak memberikan tanggal. Eng Hwa mengeluarkan kertas kecil dari balik lengan bajunya—primbo
Read more