Lima hari sudah Choa Hok menyelinap. Bukan di medan perang. Bukan di hutan belantara. Tapi di istana—di antara duka dan kain putih, di antara tangisan palsu dan wajah-wajah yang tidak bisa dia percaya.Dia menyelidiki kematian Kaisar. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Tanpa izin. Tanpa surat perintah.Tidak ada bukti.Tidak ada racun di sisa makanan Kaisar. Tidak ada saksi yang melihat orang asing masuk kamar. Tidak ada alat bukti yang mencurigakan—tidak ada, tidak ada, tidak ada.Setiap hari, setelah prosesi berduka selesai, Choa Hok memeriksa kamar Kaisar. Sendirian. Memeriksa bantal, memeriksa seprai, memeriksa lantai, memeriksa langit-langit. Memeriksa tempat tidur, lemari, meja, kursi. Memeriksa bahkan tempat sampah.Tidak ada.Tidak ada.Tidak ada.Hari kelima, dia sumpek. Frustrasi. Kepalanya pusing. Matanya perih. Pelipisnya berdenyut terus-menerus.Dia pergi ke perpustakaan kerajaan. Bukan perpustakaan biasa—perpustakaan tua, dibangun sejak zaman kakek-kakek Kaisar. R
Read more