LOGINSetahun sudah. Libur Choa Hok habis. Tapi kekacauan yang dia ciptakan—tanpa sengaja—masih terus berlanjut. Choa Hok melihat kalender dan ogah ke istana.Di Istana Yo Lan menggendong anaknya sambil menatap tembok rahasia. Diberi garis-garis. Dia akan bisa menemui Choa Hok lagi. Seperti biasa, alasan nanya gerakan Selir dan Mentri di bagian Intelijen. Hatinya cinta pada Choa Hok. Sakit. Tapi ada lega karena Choa Hok bisa punya anak. Walaupun tetap nyeri nyut-nyutan karena bukan dia yang melahirkan bayi itu, tapi Eng Hwa, sepupunya yang paling dia sayang.Undang-undang perkawinan janda akhirnya disahkan. Sidang Mentri Cia Agung, setelah debat panas selama berminggu-minggu, menyetujui rancangan Permaisuri. Isinya: hukuman berat bagi siapa pun yang menyebarkan gosip atau menentang perkawinan janda dengan pria yang legitim. Masyarakat tidak bisa semena-mena lagi. Gosip masih jalan di belakang, tapi secara hukum, kalo ketahuan, berat.Choa Hok membaca berita itu dari koran istana. Tersenyum.
Di ruang tamu rumah warisan Tan, suasana hangat tapi tegang. Bukan tegang karena marah. Tapi tegang karena harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu.Choa Hok duduk di kursi ruang tamu. Di depannya, Choa Liem—adik sepupu, tabib muda lulusan akademi militer, spesialis meridian anak. Tangannya meraba pergelangan tangan bayi mungil yang digendong Eng Hwa. Bayi itu—Bun Kiat, ide gabungan dari Choa Hok dan Eng Hwa masih merengek habis jatuh. Bayi itu seolah-olah mengadu manja pada dunia. Mata besar menatap langit-langit. Kadang tersenyum sendiri. Kadang kecup jari-jari kecilnya.Choa Liem memejamkan mata. Jari-jarinya bergerak pelan. Meraba aliran chi—atau bekas aliran chi—di dalam tubuh mungil itu.Lama.Lalu dia membuka mata. Wajahnya sepet. Cuma bisa merem, melek—kayak orang yang gak percaya dengan temuan sendiri.“Ga bisa, Ko!” suaranya pelan, tapi tegas. “Meridian gini belajar pake senjata aja tin thang (berat). Apa lagi pake chi."Choa Hok terdiam. Kepalanya nunduk. Pelipisnya ber
Tan Kwee Beng menggebrak meja.Meja kayu jati di ruang tamu rumah warisan Tan itu bergetar. Gelas-gelas teh meloncat, hampir tumpah. Beberapa pembantu yang sedang bersih-bersih di pojokan kaget, langsung mundur.“Gila lu, Hok!” teriak Kwee Beng. “Ponakan lu mau kawin sama janda lagi? Satu kali lu kawin sama janda, gua diem. Dua kali ponakan gua kawin sama janda, gua masih bisa tahan. Tiga kali— ”“Belum tiga kali, ” potong Choa Hok. Sambil mengupas kacang rebus.Kwee Beng terdiam. Wajahnya merah. Dadanya naik turun.Gwee Hoe—istri Kwee Beng, ipar Choa Hok—maju. Tangannya di pinggang. Matanya melotot.“Choa Hok, lu jangan belagu! ” katanya. “Ini urusan anak gua. Ki Lan anak gua. Masa gua ga punya suara? ”Choa Hok tidak menjawab. Dia memasukkan kacang rebus ke mulut. Mengunyah. Kriuk. Kriuk.Gwee Hoe ngamuk. Bicara terus. Tentang aib. Tentang malu. Tentang apa kata orang.Kwee Beng ikut ngamuk. Nambahin omelan istrinya.Choa Hok duduk santai. Matanya menatap mereka berdua. Seperti meno
“Ayok ke gudang, cari giok yang pantes buat tanda jadi!” kata Choa Hok.Ki Lan mengerjap. “Giok, Ah Cek?”“Buat lamaran. Lu kan mau lamar Kim Lan. Gak mungkin cuma modal senyum.”Ki Lan tersenyum. Lalu mengeluarkan kantong kain dari saku bajunya.Bukan kantong sembarangan. Kain sutra, warna merah tua, diikat pita kecil. Choa Hok menerima. Membuka. Matanya membelalak.Giok. Bentuk lingkaran warna hijau kebiruan, permukaan mengkilap dengan ukiran anggrek—tanda kualitas bagus, agak mahal. Pinggiran emasnya bersih.Choa Hok bersiul kecil. “Pesanan khusus?”“Iya, Ah Cek,” jawab Ki Lan, agak malu. “Gue sengaja bikin sebulan lalu. Karena gue udah niat. Kayak niat Ah Cek dulu gak main-main sama Ah Cim. Niat.”Choa Hok diam. Lalu mengangguk. Bangga. Tanpa banyak kata.Eng Hwa yang dari tadi menganalisis wajah Kim Lan, mendekat. Matanya menyipit.“Eh, boleh tau tanggal lahir kalian?”Ki Lan dan Kim Lan kompak memberikan tanggal. Eng Hwa mengeluarkan kertas kecil dari balik lengan bajunya—primbo
Prajurit Hok berdiri di tempat rahasia di depot Bak Mie Long. Belakang wisma. Bau dupa masih tercium samar dari balik dinding bambu. Di depannya, Pangeran Ong Kiat Seng—pakaian hitam, topeng setengah muka, lencana disembunyikan. Mata pangeran tajam. Rahangnya merapat.“Laporan lu lengkap! Ciamik memang anak buah Choa Hok.” suara pangeran datar, tapi ada getar di ujung.Prajurit Hok mengangguk. Cuma bisa diem. Matanya keriyep-keriyep gara-gara semaleman di wisma akibat gagal tobat.Pangeran menghela napas. Hidungnya mengkerut. Lalu mengendus.Matanya membelalak.“Lu bau parfum wanita.”Prajurit Hok diam. Mulutnya terkunci.“Sebelum laporan, lu ke wisma dulu?”Prajurit Hok mengangguk. Takut. Malu. Tapi jujur.“Kaga tahan, Yang Mulia,” bisiknya. “Pulang perang... maunya tobat... tapi...”Pangeran menghela napas. Pusing. Tidak mau lanjut. Urusan moral prajurit bukan domainnya.“Udah. Laporan.”Prajurit Hok menarik napas. Mengeluarkan catatan dari saku bajunya.“Choa Hok tidak berkhianat
Hari kedelapan setelah pernikahan. Choa Hok sudah boleh bekerja di luar. Secara adat, pengantin baru memang dilarang keluar rumah selama seminggu penuh. Tapi hari ini—hari kedelapan—bebas. Pintu rumah tidak lagi terkunci simbolis. Tamu tidak lagi datang bergelombang. Rumah kembali sepi. Normal.Tapi Choa Hok gak mood duduk di teras, makan kacang rebus. Dia menulis sesuatu. Lembar demi lembar. Menggambar lembar demi lembar. Buku tentang teknik-teknik intelijen. Hobi sampingan.Dia duduk di kursi bambu, di teras rumah warisan Tan yang sudah ia perlebar itu. Secangkir teh jahe di sampingnya. Dingin. Gak disentuh. Matanya kosong menatap halaman belakang—yang dulu lapangan latihan panah, sekarang sudah berubah. Pohon jeruk. Pohon plum. Pohon mangga. Dan yang paling banyak: bunga Krisan. Bibit-bibit kecil yang dia tanam beberapa minggu lalu, sekarang sudah mulai tumbuh. Daun-daun kecil berwarna hijau segar menjulur dari tanah, seolah-olah mengabarkan bahwa mereka akan mekar.“Tuan,” kata pe
Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih
Saat asyik bersembunyi di balik semak bunga botan (peony), Choa Hok melihat sesuatu.Bayangan. Bukan satu. Banyak. Geraknya pelan, hati-hati, terlalu teratur buat sekadar pelayan yang lewat. Dari balik dedaunan, dia lihat kilatan pisau pendek di tangan mereka.Mata Choa Hok menyipit. Perutnya berke
Suara gemericik air dari pancuran bambu di sudut kediaman barak terdengar monoton. Tan Choa Hok berdiri mematung di bawah kucuran air dingin yang menusuk tulang. Musim gugur di Cia Agung memang gak kenal ampun—air bisa bikin kulit serasa disayat sembilu.Tapi Choa Hok tidak peduli.Dia membiarkan a
Langit Kerajaan Cia Agung lagi kacau balau. Perang saudara di mana-mana. Kabar dari utara bilang pasukan pemberontak udah rebut dua kota. Dari timur, stok beras mulai menipis. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada kabar paling absurd yang bikin para perwira di garnisun timur geleng-geleng kepala.Tan







