"Apa?" Fahmi tersentak dengan wajah memerah. Sialnya, dia tidak membawa ponsel. "Coba hubungi Indri," perintah Fahmi memohon. "Kamu saja yang hubungi, itu bukan urusanku." Andini melenggang begitu saja, disusul Sintya dibelakangnya. "Aku minta tolong," ucap Fahmi suaranya lirih. Mendengar itu, Andini menghentikan langkah. Ia menghela nafas berat, haruskan ia menolong orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Itu adalah sebuah ketidak mungkinan. "Kali ini saja, tolong ... telpon Indri, tanyakan keadaan dia," bujuk Fahmi melas. Andini menatap kearah Sintya, gadis di sampingnya itu mengangguk samar. Namun, matanya seolah berkata tidak perlu. Dilema dan bingung, masih banyak permasalahan yang harus Andini selesaikan. "Andini, tolong ini demi anakku," Fahmi memohon dengan suaranya yang gemetaran, seketika ia menangis sesegukan begitu saja. Pemandangan itu sedikit menjijikan di mata Andini, ia mendelikan mata keatas. Sambil mencibir dalam hati bagaimana Fahmi memohon. "Oke, t
Baca selengkapnya