Masuk"Apa?" Fahmi tersentak dengan wajah memerah. Sialnya, dia tidak membawa ponsel. "Coba hubungi Indri," perintah Fahmi memohon. "Kamu saja yang hubungi, itu bukan urusanku." Andini melenggang begitu saja, disusul Sintya dibelakangnya. "Aku minta tolong," ucap Fahmi suaranya lirih. Mendengar itu, Andini menghentikan langkah. Ia menghela nafas berat, haruskan ia menolong orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Itu adalah sebuah ketidak mungkinan. "Kali ini saja, tolong ... telpon Indri, tanyakan keadaan dia," bujuk Fahmi melas. Andini menatap kearah Sintya, gadis di sampingnya itu mengangguk samar. Namun, matanya seolah berkata tidak perlu. Dilema dan bingung, masih banyak permasalahan yang harus Andini selesaikan. "Andini, tolong ini demi anakku," Fahmi memohon dengan suaranya yang gemetaran, seketika ia menangis sesegukan begitu saja. Pemandangan itu sedikit menjijikan di mata Andini, ia mendelikan mata keatas. Sambil mencibir dalam hati bagaimana Fahmi memohon. "Oke, t
"Ini semua karena postingan kamu! pak Julian dan Om Hans batal menjadi investor di perusahaanku," hardik Fahmi berjalan kearah Andini dengan bahu naik turun. Wajahnya merah, bola mata melotot seakan mau keluar. Tangannya mengepal dengan urat yang nampak. Andini tak gentar, ia menengadahkan kepala menyambut Fahmi yang kian mendekat. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan, tak ada kata yang keluar dari keduanya. Ruangan itu kian memanas, menjadi saksi bisu ketika tangan Fahmi melayang menampar pipi Andini. Hingga, Andini tersungkur jatuh tak berdaya. Air matanya jatuh setetes, namun tidak membuat ia ciut atau takut. "Kamu harus menghapus postingan itu!" bentak Fahmi. Andini tertawa seraya menyeka air matanya dan bangkit, ia menatap tajam kearah Fahmi dan berkata, "semua orang sudah tahu kelakuan kamu, kamu harus bisa menerima konsekuensinya." "Apa yang aku lakukan bukanlah kriminal, ada banyak laki-laki yang berpoligami di dunia ini dan itu bukanlah hal ilegal," tambah Fahmi. "
"Kamu lihat! netizen sudah menghujat aku Mas!" bentak Indri menunjuk-nunjuk ke ponsel yang ia pegang. Fahmi merebut ponsel itu, ia memperhatikan dengan seksama. Beberapa DM dari pengikut Indri, hujatan dan ujaran kebencian terlontar begitu saja. Fahmi mempererat genggaman tangannya, urat di atas punggung tangannya timbul, bibirnya menutup dan giginya gemeretak. "Andini," gumam Fahmi kesal. "Aku gak mau kehilangan pekerjaan aku,yang sudah aku bangun dengan susah payah," caci Indri sesegukan. "Iya, aku akan meminta Andini untuk menghapus semua postingan tentang ini," timpal Fahmi. "Menghapus? Terlambat! Semua orang sudah tahu,dan semua orang mengira aku ini gundik! Wanita murahan! Padahal, jelas-jelas aku juga korban." Wanita itu mondar-mandir dengan menggigiti jari telunjuk. Perasaan resah dan gelisah menyelimuti tubuh Indri. "Huek! Huek ...." Indri memegangi perutnya yang terasa mual. "Sayang, kamu ...kenapa?" tanya Fahmi mendekat. "Jangan mendekati aku!" sergah Indri menepis d
"Mau apa kamu?" tanya Indri tanpa menoleh. "Hanya ingin tahu kabarmu, memastikan kamu tidak betul-betul bahagia dengan pernikahanmu! Apalagi ... kamu menikah dengan suami orang," ujar lelaki itu. Laki-laki itu berjalan mendekati Indri. Keringat dingin menyeringai di area pelipis dan kening. Indri terus memencet-mencet tombol lift di depannya panik. "Ayo buka," rintih Indri melirik sedikit kearah mantan pacarnya itu. Saat pintu terbuka, Indri buru-buru masuk untung saja dalam lift itu ada beberapa orang yang hendak naik dari basement. Ia menyelipkan diri diantara mereka. Lelaki itu hanya berdiam diri, berdecak kesal karena gagal menghampiri Indri. Ia menghentakkan kakinya ke lantai penuh emosi. "Awas kamu!" ancam lelaki itu menatap kearah lift. Dengan tergesa-gesa, Indri langsung keluar dari dalam lift setelah pintu terbuka pada lantai tujuannya. Tangannya gemetar hebat, jantungnya masih bertalu-talu. Kartu akses yang ia pegang pun sempat terjatuh. Ia terhenti di pintu, sekit
Mereka membawa kamera dan ponsel, menghampiri butik Andini. Ozan yang melihat itu langsung memanggil Andini ke ruangannya sambil panik. “Mbak!” seru ozan,ia menggigit jari. “Ada apa?” tanya Andini membuka pintu,mimik mukanya terlihat masih kesal dengan kantung mata yang sedikit sembab. “Itu mbak ….” Ozan menunjuk ke luar sambil berjengit. Beberapa orang berkerumun di halaman butik. Sambil sesekali memotret dengan kameranya. Jumlahnya sekitar sepuluh orang, ada yang mengenakan seragam sama ada juga yang hanya berpakaian biasa. “Wartawan?” gumam Andini mengintip dari balik jendela. Andini mengernyitkan dahi, kenapa bisa secepat itu sampai pada media. Padahal, dia tidak membagikannya di beranda.Tampak salah satu dari mereka menyadari Andini yang mengintip. Ia tersenyum dengan keseluruhan gigi yang terlihat. Lalu, melambaikan tangan dan menyikut salah satu temannya. Mereka langsung riuh dan saling memanggil nama Andini. “Mereka siapa Mbak?” tanya Siska di belakang Andini. Andini
Andini terus memantau perkembangan cerita yang dibagikannya. Sudah ada puluhan orang di menit pertama, lalu menengoknya lagi dan sekitar lima menit sudah ada ratusan. Naik terus hingga ribuan yang melihat. Ia memeriksa setiap username, Fahmi belum melihat itu. Lelaki bajingan itu memang tidak selalu membuka sosial media, bahkan bisa dikatakan jarang.Selang sekitar sepuluh menit, pintu ruangan Andini diketuk begitu keras. Berkali-kali, hingga membuat Andini dongkol. “Masuk!” perintah Andini dengan wajah kesal. Pintu terbuka dan ternyata itu Indri, ia menghampiri Andini dengan mata sudah sembab dan pipinya banjir. Wajahnya penuh amarah, matanya tak berkedip sama sekali. Ia berjalan perlahan mendekat pada Andini. “Aku … sudah lihat apa yang mbak bagikan si Instagram,” ujarnya terisak, ia makin mendekat Andini pun menyambut dengan berdiri. Mereka saling tatap, Andini tak sedikitpun merasa takut jika memang Indri egois. “Lalu?” kata Andini dengan nada meledek. “Itu sepenuhnya bukan
Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranj
Lampu menyala seketika, Andini menyipitkan matanya sedikit silau. Ruangan dengan satu kamar tidur itu terasa sunyi. Andini melangkah lagi menyusuri setiap sudut di susul Sintya. "Seperti ditinggalkan sudah lama," kata Sintya seraya meletakan jari telunjuk di atas meja kayu, "berdebu." "Lihat!" tu
Hari berpindah, Andini dan Fahmi tetap menjalani hidup seperti biasa. Namun, Andini sedikit curiga pada suaminya itu. Fahmi jarang pulang, dan ketika kerumah akan tercium bau parfum yang bukan milik Fahmi. Andini juga sempat memergoki Fahmi tengah chattingan malam hari ketika Andini setengah tid
Tepuk tangan bergemuruh saat kedua mempelai telah sah sebagai suami istri. Raut bahagia terpancar dari pengantin pria dan wanita yang serasi mengenakan busana berwarna putih. Mereka saling tatap malu-malu. Acara itu hanya dihadiri keluarga inti saja. Pesta sederhana di pesisir pantai Bali yang







