Meski jantung Sabiya masih berdebar kencang, ia buru-buru menguasai diri. Sabiya pun tersenyum tipis, lantas menepuk lembut bahu mungil kedua putranya. "Baiklah. Mama bersiap-siap sebentar, ya. Kalian tunggu di luar."Tanpa membuang waktu, Sabiya bergegas masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan gerakan cepat untuk menghalau sisa kantuk yang masih ada. Setelah itu, Sabiya memilih setelan kerja formal dan memoles wajahnya dengan riasan tipis. Namun, belum sempat ia merapikan helai rambut terakhir, sayup-sayup suara yang berat terdengar menyapa seisi apartemen. Disusul oleh sorak-sorai gembira Ares dan Altair yang saling bersahutan. Jetro sudah tiba.Sabiya segera merapikan blazernya dan melangkah keluar dari kamar. Begitu sampai di koridor tengah, ia mendapati Jetro sudah berjalan menuju meja makan bersama si kembar. Di pelukan Altair dan Ares, masing-masing sudah mendekap sebuah tas besar dengan logo toko mainan eksklusif. Sabiya langsung tahu, itu pasti berisi barang-ba
Ler mais