Kapal berlogo elang membelah ombak samudra dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan sisa-sisa titik api ledakan yang telah memudar di kaki langit Aldena.Di kejauhan, gumpalan asap hitam perlahan-lahan tersapu oleh kabut dingin yang kian tebal. Sabiya berdiri di geladak belakang, membiarkan angin laut menerbangkan helaian rambutnya yang panjang.Saat ini, ia sudah merdeka. Roman, Clara, bahkan semua orang menyangka dia sudah mati. Seharusnya, ia merasa lega karena rencananya telah berjalan dengan lancar. Namun, ketika adrenalin di dalam tubuhnya surut, ketahanan tubuh Sabiya justru menurun. Efek alergi yang belum sepenuhnya pulih, ditambah terpaan angin laut yang dingin membuat perut Sabiya bergejolak. Rasa mual berkumpul di ulu hatinya.Begitu geladak kapal bergoyang memotong gelombang besar, Sabiya merasakan kepalanya pening. Ia pun meraba lambung kapal dengan tangan kanannya yang gemetar.Dan—Huekk!Sabiya muntah beberapa kali, membuang sup kaldu ayam yang sempat ia telan tadi sian
더 보기