Roman menulikan telinganya. Tanpa menghiraukan Clara yang terus-menerus memanggil namanya, pria itu tetap melangkah tegas.Sorot mata Roman menatap lurus pada anak tangga yang menuju ke kamarnya di lantai dua. Clara yang berniat mengejar, terpaksa menghentikan langkah. Mendadak, pergelangan kakinya yang pincang didera rasa nyeri yang tajam.Dengan napas terengah-engah, wanita itu akhirnya hanya bisa terduduk di anak tangga terbawah. Clara menangis, meratapi harga dirinya yang sudah hancur lebur.Setiba di dalam kamar, Roman membanting pintu dan menguncinya dari dalam. Napasnya memburu, dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi yang nyaris meledak. Tanpa berpikir dua kali, Roman merogoh ponsel dari saku celananya dan menekan nomor Dante.Hanya dalam dua kali nada sambung, suara tangan kanannya itu langsung terdengar. "Iya, Tuan.”"Dante, cepat kemari! Bawa Clara kembali ke rumahnya malam ini juga," perintah Roman.Di seberang telepon, Dante sempat tertegun. "Saya harus membawa per
Ler mais