Karena Dominic masih berdiri begitu dekat di sampingnya, Sabiya memutuskan untuk menahan diri. Ia tetap mengabaikan dering yang terus mendesak itu, hingga pintu lift terbuka di lantai delapan. Akan tetapi, seolah tak mau menyerah, benda pipih di dalam tas tangan Sabiya kembali berbunyi.Dominic, yang berjalan di belakang Sabiya, menghentikan langkah. Pria bermata abu-abu itu menatap Sabiya dengan sorot mata penuh selidik."Nona Rosella, silakan angkat teleponnya terlebih dahulu," ucap Dominic. "Saya tidak keberatan menunggu. Jangan biarkan urusan penting Anda terlewat hanya karena kehadiran saya."Sabiya tersenyum kaku, merasa tidak enak karena tamu pentingnya harus terganggu oleh panggilan telepon. "Tidak apa-apa, Tuan Dominic. Saya bisa menerima panggilan itu nanti. Mari, saya antarkan ke ruang meeting," ujar Sabiya sopan.Tanpa menunda lagi, Sabiya memimpin jalan menyusuri koridor menuju ruang meeting. Ia membuka pintu lebar-lebar, lalu mempersilakan sang investor menunggu di dal
Ler mais