Selepas keluar dari rumah sakit, Roman berkumpul dengan anak buahnya di sebuah penginapan yang mereka sewa di pinggiran kota Lisea.Roman duduk bersandar dengan napas yang dikendalikan. Ia berusaha mengabaikan rasa nyeri pada kakinya, yang baru saja ditanamkan pelat titanium beberapa jam lalu.Dengan raut wajah sedingin balok es, pria itu memandang layar laptop yang menampilkan peta topografi wilayah Lisea.Tiba-tiba, nada dering nyaring memecah keheningan yang mencekam. Ponsel cadangan yang digunakan Roman untuk berkomunikasi dengan pihak penculik bergetar.Steven dan Sebastian, yang duduk di seberang Roman, serempak menahan napas.Tanpa ragu sedetik pun, Roman meraih ponsel tersebut dan menekan tombol hijau.Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membiarkan pihak seberang berbicara lebih dulu.Dari balik sambungan, terdengar suara serak seorang pria."Roman Valeriano, kuharap kakimu sudah cukup kuat untuk berjalan. Karena sekarang, di sekita
Ler mais