Mendengar pertanyaan Altair yang kelewat kritis itu, Sabiya menghela napas sejenak. Ia tahu betul, dalam menghadapi putranya yang berotak jenius itu, ia harus bisa memberikan penjelasan yang paling masuk akal."Sayang... yang akan pindah ke rumah ini adalah Paman Roman, bukan Mama. Jadi, Mama tetap tidur di kamar apartemen kita."Ares, yang sejak tadi bosan mendengarkan tanya jawab serius itu, langsung berinisiatif menaiki anak tangga."Ares, pelan-pelan! Jangan berlari di tangga, nanti jatuh!" seru Sabiya berusaha menyusul, sebelah tangannya menggandeng erat jemari Altair.Mendengar peringatan ibunya, Ares berhenti sejenak di tangga. “Aku sudah biasa naik turun tangga di sekolah, Ma. Tidak akan jatuh!"Begitu Ares menginjakkan kakinya di lantai atas, Roman segera menyambutnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya dengan tumpuan kruk, lalu mengusap puncak kepala Ares."Bagaimana sekolahmu hari ini, Ares?" sapa Roman ramah.Ares terbelalak senang bukan kepalang. Mata bulatnya mengerjap tak
Leer más