Semburat keraguan dan gejolak batin masih jelas terlukis di wajah Sabiya, membuat wanita itu tak mampu memberikan jawaban pasti.Melihat kebisuan Sabiya, Roman mencondongkan tubuhnya, lalu menyatukan dahi mereka. Napas hangat keduanya beradu dalam keheningan malam kamar yang temaram."Sayang, bila kau tidak setuju, aku tidak akan memaksa," bisik Roman, suaranya serak tetapi penuh kelembutan.Sabiya menahan napas. Kata-kata itu sederhana, tetapi bobotnya terasa begitu berat.Roman menunggu, matanya menatap lekat, mencari jawaban di relung paling dalam dari hati Sabiya."Aku bisa bertahan selama hampir enam tahun dalam kesepian. Aku masih bisa menunggumu sampai kau siap.”Sabiya menelan ludah.Bertahun-tahun ia membangun tembok di sekeliling hatinya, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak membutuhkan Roman lagi. Namun kini, pria itu ada di sini, rapuh, terluka, dan meminta kerelaan penuh darinya.Sabiya menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Kau boleh tidur di kamarku setelah ga
Leer más