LOGINKeesokan harinya, Sabiya berangkat menuju kantor Elegance Jewelry seperti biasa. Begitu tiba di ruang kerjanya, Sabiya segera menyalakan laptop sambil mengeluarkan beberapa berkas desain.Baru lima menit ia beraktivitas, pintu ruangannya diketuk pelan. Seorang staf mengabarkan bahwa Nyonya Vivian Vance memanggilnya ke ruang CEO.Sabiya segera beranjak untuk mematuhi perintah sang pemilik perusahaan.Di lantai teratas gedung perkantoran tersebut, Nyonya Vance menyambutnya dengan senyuman hangat penuh apresiasi. Wanita paruh baya itu menunjuk kursi di hadapannya agar Sabiya duduk."Rosella, silakan duduk," sapa Nyonya Vivian ramah. "Aku memanggilmu ke sini karena ada kabar gembira. Berdasarkan laporan kinerja akhir tahun ini, kerja kerasmu sungguh luar biasa. Kau berhasil mengunci dua kesepakatan kontrak yang nilainya fantastis, baik dengan Tuan Valeriano maupun dengan Tuan Sterling."Sabiya tersenyum sopan. "Terima kasih banyak, Nyonya Vance. Ini juga berkat dukungan dan bimbingan Anda
Di ruang keluarga apartemennya, Sabiya tengah duduk bersila di atas permadani lembut bersama kedua putranya. Di hadapan mereka terhampar lautan Lego warna-warni yang berhamburan.Ares tampak begitu antusias menyusun sebuah menara tinggi, sedangkan Altair dengan teliti merakit kepingan demi kepingan balok untuk membangun replika pesawat luar angkasa. Sabiya menemani mereka sambil sesekali menyuapi si kembar dengan kue buatannya.Namun, di tengah kehangatan hari Minggu itu, dering ponsel mengalihkan perhatian Sabiya. Nama Dante terlihat jelas di layar sebagai penelepon.“Nyonya Sabiya, saya sudah tiba di area lobi,” ucap Dante."Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan segera turun ke bawah," balas Sabiya.Lekas saja Sabiya bangkit dari duduknya. Ia beralih menuju meja dapur, di mana sebuah rantang bersusun tiga telah ia siapkan.Di dalam wadah tingkat pertama tersimpan sup ayam kaldu bening, di tingkat kedua ada salad buah segar, dan di tingkat terakhir tertata beberapa potong cheese sponge
Sebelum Clara berbuat nekat, Simon telah menerjang ke depan. Ia menyambar tangan putrinya dan menepisnya dengan kasar, membuat butiran obat tidur berhamburan di atas lantai.Clara menjerit tertahan, meronta-ronta di dalam dekapan ayahnya. "Lepaskan aku, Papa! Biarkan aku mati! Hidupku sudah hancur karena kekejaman Roman!" teriak Clara parau, di sela isak tangisnya yang memilukan. "Aku tidak punya apa-apa lagi! Aku sudah kehilangan harga diri!"Simon memeluk erat tubuh putrinya yang bergetar. Dengan air mata yang ikut menetes di pipi, pria paruh baya itu mengusap punggung Clara."Jangan bicara bodoh, Clara. Hidupmu sangat berharga, kau tidak boleh putus asa seperti ini!" bujuk Simon menahan kesedihan. "Kau masih muda, masa depanmu masih panjang.""Tapi masa depanku sudah suram, Papa. Aku ternoda oleh lelaki rendahan."Mendengar ratapan putrinya, sorot mata Simon berubah tajam. Ia memegang kedua bahu Clara, memaksa sang putri agar beradu pandang dengannya."Dengarkan Papa baik-baik, Cl
"Mama pulang!" teriak Ares girang begitu melihat ibunya membuka pintu apartemen.Bocah laki-laki itu berlari kencang dari arah ruang keluarga, berniat menyambut Sabiya dengan pelukan erat. Akan tetapi, sebelum tubuh kecil Ares menabraknya, Sabiya refleks merentangkan tangan untuk menahan jarak."Eits! Jangan memeluk Mama dulu, Sayang," cegah Sabiya dengan nada lembut. “Mama baru saja pulang dari rumah sakit. Pakaian Mama masih membawa bau disinfektan dan kuman dari sana. Mama harus membersihkan diri dulu, ya."Ares mengerucutkan bibirnya, menarik kembali langkahnya dengan ekspresi kecewa. "Yah, padahal aku sudah menunggu Mama dari tadi."Di saat yang bersamaan, Altair berjalan menyusul dari belakang dengan langkah tenang. Tanpa ekspresi berlebihan, bocah itu menepuk pelan bahu kembarannya."Ares, biarkan Mama mandi dan mengganti bajunya," kata Altair menasihati. "Setelah itu baru kita makan bersama dan menanyakan apa yang ingin kita tanyakan."Sabiya menatap Altair dengan rasa kagum
Melihat Roman yang bersandar begitu lekat pada pundaknya, Sabiya menghela napas panjang. Memang pria ini sedang terluka parah dan berada dalam titik paling rapuh. Namun di saat bersamaan, insting dominan seorang Roman Valeriano tidak pernah hilang. Sabiya tahu pria ini sedang memanfaatkan situasi untuk bermanja dan mencari celah pertahanan hatinya. Meski menyadari keinginan terselubung itu, Sabiya memutuskan untuk menahan diri. Ia tidak sampai hati menegur atau mendorong pria yang masih berbalut gips, demi menjaga kestabilan kesehatan Roman."Ayo, berbaring lagi, Roman," tutur Sabiya lembut. “Nanti kita bicarakan lagi mengenai tempat tinggalmu setelah kau diizinkan keluar dari rumah sakit."Mendengar Sabiya masih belum mengabulkan permintaannya, Roman tampak kecewa. Bibirnya mengerucut tipis, memperlihatkan raut wajah memelas yang sangat kontras dengan reputasinya sebagai penguasa Aldena.Kendati demikian, ia tetap menurut saat Sabiya membantunya berdiri dan menuntunnya perlahan ke
Dengan sangat hati-hati, Sabiya beranjak dari kursi. Ia melangkah menuju brankar kosong beroda, yang berada di sudut ruangan.Sabiya naik ke atas matras yang dilapisi seprai putih rumah sakit. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa pegal dan letih, setelah melalui hari yang penuh emosi.Sebelum memejamkan mata, Sabiya menoleh sekilas ke arah brankar utama, memastikan Roman tidak meronta lagi.Keesokan paginya, Sabiya terbangun ketika mendengar suara pintu berderit. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang masuk. Otot di tubuhnya terasa agak kaku karena tidur di brankar sempit.Sabiya pun mendudukkan dirinya, lalu melihat pintu terbuka lebar. Dokter utama yang menangani Roman, yaitu Profesor Adrian, melangkah masuk didampingi oleh perawat dan Dante."Selamat pagi, Nyonya," sapa Profesor Adrian ramah. "Mari kita lihat perkembangan Tuan Valeriano pagi ini."Tim medis langsung bergerak sigap memeriksa tanda-tanda vital Roman, serta memantau kondisi gips di len
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya







