LOGIN"Nimas Puspa dan Arya Muda Agastya ini ..." Mpu Panembahan mengusap jenggot putihnya. Ia mengeluarkan lembaran lontar berisi catatan weton. "Keduanya sama-sama membawa elemen api yang besar."
Tangan Puspa tetap terlipat di pangkuan. Ekspresinya sangat terkontrol meski perasaannya bimbang, dia tetap berpikir positif jika yang terjadi hanya akan sebatas membahas— "Jika pernikahan dilakukan enam bulan lagi, itu tepat di puncak musim kemarau. Api bertemu api di puncak panas." Napas Puspa tertahan begitu saja. Sementara Andara yang baru saja menoleh kepada Puspa langsung bertanya dengan wajah serius, "Lalu, apa risikonya, Mpu?" "Wastu kalian bisa 'terbakar'. Hubungan ini tidak akan mendingin, Raden Lelana. Musim hujan adalah satu-satunya penawar agar api menjadi cahaya, bukan abu." "Maka waktu apa yang pas, Mpu?" Suara Bindani masuk dengan pertanyaannya yang membuat Puspa nyaris mengepalkan tangannya. "Hanya air dari langit yang bisa menjinakkan api mereka menjadi cahaya yang berkah." Mpu Panembahan menangkap tangannya. Memejamkan mata seperti meminta petunjuk, dan dia melanjutkan, "Akhir musim hujan wangsa ini ... tiga bulan dari sekarang." Puspa refleks mendongak. Di saat yang bersamaan, Agastya juga sedang menatapnya. Mata mereka langsung bertemu, membuat Puspa sedikit tersentak. Agastya pun ikut tersentak, tapi Puspa buru-buru menurunkan pandangannya kembali. Puspa hampir saja kehilangan kendali atas ekspresi wajahnya. Kepalanya berputar cepat. Di kehidupan pertama dia punya waktu setengah tahun, dan sudah dua bulan dia menyusun rencana untuk itu ... "Tiga bulan?" Andara tampak ragu setelah kembali melirik Puspa. Raut wajah Kemuning juga tampak terkejut. "Bukankah itu terlalu singkat untuk persiapannya? Ini pernikahan kerajaan." "Keluarga Gautama yang akan menjamin segalanya sempat, Raden Andara." Bindani tersenyum, matanya melirik menatap Puspa yang masih terpaku. "Lagipula, Agastya sudah sangat mantap. Bukankah begitu, Puspa?" Puspa menelan ludah, dia mengangguk dalam-dalam sambil menunduk. Orang-orang akan melihat Puspa malu, padahal dalam hati dia berpikir benteng pertahanan yang dia bangun terancam runtuh sebelum sempat berdiri, karena rencana yang sudah ia susun selama dua bulan ini baru saja kehilangan separuhnya. Agastya di sisi lain memandang Puspa diam-diam. Entah kenapa merasa Puspa sedikit berbeda. "Saya mengikuti kebijaksanaan para Sesepuh dan keluarga Gautama," kata itu keluar begitu saja. Membuat Bindani bertepuk tangan pelan. · · · · ✦ · · · · Begitu kesepakatan tercapai, halaman Wastu Lelana kembali sibuk. Pelayan dari keluarga Gautama mulai mengangkut peti-peti sesan—mahar megah ke dalam gudang utama. Puspa berdiri di sudut pendapa, menyaksikan hartanya bertambah tapi hatinya justru terasa kosong. "Nimas Puspanyidra." Puspa segera menoleh, dia mendapati Agastya berdiri dua langkah di sampingnya. "Arya Muda." Puspa menunduk memberi salam. "Ada keperluan apa?" tanyanya. Agastya menggeleng. "Tiga bulan terasa singkat untuk bersiap," bisik Agastya. "Tapi aku akan memastikan wastuku sudah siap menyambutmu, Nimas." Puspa diam sesaat. Suara Agastya ini jenis suara yang dulu selalu membuat jantung Puspa melonjak girang. Sekarang, Puspa hanya menatap wajah itu dengan tenang. "Terima kasih, Arya Muda. Semoga alam merestui persiapan kita," jawab Puspa dengan nada formal, tidak ada rona merah di pipi, apalagi ada getar malu-malu. Agastya sedikit mengernyit, dia merasa ada yang asing dari ketenangan calon istrinya, tapi karena rombongan Gautama mulai bergerak menuju kereta, dia terpaksa berpamitan dan melangkah pergi. Malamnya, Wastu Lelana kembali sepi setelah keramaian hantaran mahar mereda. Puspa duduk sendiri di depan meja jatinya, termenung menatap pelita yang bergoyang ditiup angin. Puspa sudah tidak bertanya kenapa dipercepat karena sudah jelas itu perbuatan Bindani yang ingin lebih cepat mengikatnya. Dia malah berpikir jika garis waktu pernikahan ini maju lebih awal, artinya kedatangan Manika juga akan terjadi lebih cepat. "Dari mana sebenarnya Manika berasal?" bisik Puspa dengan kening mengernyit. "Aku hanya tahu bahwa Manika adalah gadis yatim piatu dari desa pelosok dan Dyah Bindani membawanya." Puspa duduk lebih tegak dan menatap jauh ke depan. Ia berpikir lagi, jika pernikahan ini saja bisa dimanipulasi melalui weton api, padahal raja menentukan enam bulan maksimal setelah sesan .... "Atau sejak awal Manika memang sudah disiapkan untuk masuk ke Wastu Gautama?" Pikirannya muncul dengan sangat tiba-tiba. Lamunan Puspa buyar saat sebuah tarikan lembut terasa di ujung jariknya. Ia menunduk dan menemukan Girindra sudah berdiri di samping mejanya dengan mata yang berair siap menangis. "Yu Puspa ..." bisik Girindra, jemari meremas kain sogan Puspa. "Yu Puspa mau pergi jauh, ya?""Menjadi Nyai Anom, menjadi Garwa Padmi, semua itu melelahkan." Memayu melangkah ke arah dipan. Matanya sendu menatap langit yang awalnya cerah perlahan mendung dari arah timur."Kedudukan ini membawa begitu banyak penderitaan," katanya, sambil duduk dan menyembuskan naps. "Jika Shankara kembali, Agastya turun dari kedudukan pewaris, dan aku bisa terbebas dari jabatan ini."'Penderitaan'Tilar dan Asri menunduk. Bukan lagi hanya karena merasa benar, mereka yang melihatnya sendiri. Puspa bahkan belum sempat menikmati kebahagiaan sebagai seorang ibu, bayi itu sudah pergi sebelum sempat melihat dunia.Ternyata, bahkan seorang bayi yang baru memiliki detak jantung tidak aman bersama Nyai Anom—Garwa Padmi.Sungguh kejam. Neraka dunia."Kalian berdua menunduk untuk apa?"Tilar dan Asri tersentak, keduanya sama-sama mendongak, menatap Puspa yang keningnya mengernyit saat sedang menilai"Tidak apa-apa, Nyai Anom," kata Tilar. Sementara Asri di sampingnya hanya mengangguk pelan sebelum menundu
Puspa tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, ia bertanya, "Kau mengenalnya?"Adi terdiam. Ia merasa pertanyaan sederhana bisa menjadi sesuatu yang begitu sulit dijawab. Sebab selama ini, ia sendiri belum tahu siapa dirinya.Lalu sekarang, perempuan yang bahkan tidak bisa ia pahami mengapa selalu mengusik pikirannya itu datang membawa sebuah nama yang terasa familier.Nama yang mungkin bisa menjelaskan segalanya, atau ... justru menghancurkan semua yang selama ini dipercayainya."Saya tidak mengenalnya.""Begitukah?" Puspa menunduk, menatap batu-batu dan cincin yang Adi poles. "Tapi namamu juga Adiwilaga, benar?""Nama yang sama tidak membuat seseorang sama." Adi menyapu semua hal yang ada di mejanya, ia memang tidak suka seseorang melihat apa yang sedang ia lalukan.Puspa tersenyum. Tentu saja ia tahu itu, tapi ketika melirik dada kiri Adi, di mana lambang bintang itu terpampang dengan jelas, ia menarik napas pelan dan berbisik, "Aku tahu kau tidak percaya, tapi tanda itu sam
Dana lelah. Helaan napasnya terdengar pelan. "Adi, rendam kepalamu dalam bakul es dulu agar kau bisa fokus." "Aku fokus," jawab Adi, setelah tadi menjatuhkan palu dan menyenggol batu yang akan ia poles. Sudah jelas, Dana mendengkus, tapi tak acuhkan sajalah, api di hadapannya lebih penting daripada apa yang sedang berkecamuk di kepala rekan bekerjanya itu. Asal pesanan dan permintaan yang masuk selesai dengan baik, semuanya pun baik-baik saja, bukan? Tak berapa lama, Adi berganti kegiatan, ia mulai menghaluskan tepian sebuah cincin, dan detik itu juga aroma sedap malam menyentuh indra penciumannya. Tangannya berhenti. Aroma itu begitu dikenalnya. Bukan karena sering tercium di tokonya, melainkan karena pemiliknya pernah berdiri di hadapannya, memilih perhiasan dengan ketelitian yang tidak biasa. Adi mengangkat wajah. Ia melihat langsung jika Puspa sudah berada di ambang pintu, ditemani Tilar dan Asri. Entah mengapa, dadanya terasa lebih lapang ... lega. Perasaan itu datang beg
"Tidak ada," ujar Adi, ia mengembuskan napas pelan, sambil memainkan cincin di ibu jarinya.Di kegelapan malam, hijau di batu nyaris tak kentara, tapi masih bisa dibedakan dengan remang-remang damar.Asih berdeham sekilas, dan tetap menatapnya lama. "Kau bertemu seseorang?" tanyanya tiba-tiba.Adi langsung mengangkat wajah. Tidak ada pernyataan yang keluar dari bibirnya, tapi tatapan itu adalah pertanyaan itu sendiri.Asih tersenyum kecil, lalu menepuk kain yang dikenakan. "Nah."Adi mengernyit. Ia tidak suka dengan kepekaan ibunya jika begini. "Nah apa?""Berarti memang ada." Asih tersenyum makin lebar, hingga wajahnya yang berkerut karena menua mulai tampak lebih cerah.Adi menghindari tatapan ibunya itu. "Tidak ada," katanya."Kamu bahkan menjawab terlalu cepat."Adi terdiam mendengarnya, ia tidak sadar sudah melakukan hal itu, dan wajahnya jelas membuat Asih tertawa kecil, tapi tak lama, kemudian wanita itu kembali bersandar."Siapa?" tanya Asih. "Siapa namanya?"Adi tidak menjawa
Dana mengangkat kedua bahunya lagi. "Katanya masih hidup dan sudah ditangani tabib."Adi mengembuskan napas pelan. Namun, pandangannya tetap jatuh kepada perhiasan yang belum selesai dikerjakannya.Ia tidak tahu mengapa berita sederhana itu membuat pikirannya tidak tenang. Apalagi entah kenapa, nama Puspa terasa jauh lebih mengganggunya daripada seharusnya.Menjelang malam, kabar itu sudah sampai ke lingkungan istana. Kali ini bentuknya telah berubah."Nyai Anom Wastu Gautama mengalami keguguran setelah jatuh di taman."Dan karena telah terdengar di lingkungan istana, kabar itu akhirnya sampai pula ke kediaman keluarga Adipati Wiradaha.Seorang pelayan menyampaikan berita itu kepada salah seorang anggota keluarga sebelum akhirnya berita tersebut dibawa ke ruang dalam."Nyai Anom Wastu Gautama?" Putra Adipati Wiradaha yang sejak tadi duduk bersandar langsung mengangkat wajah."Ya, Yang Mulia. Katanya kandungannya tidak tertolong."Lelaki itu terdiam. Untuk sesaat, tidak ada perubahan p
Kemuning langsung menunduk. Tangannya yang masih menggenggam tangan Puspa bergetar.Arendra tidak segera menjawab. Ia hanya menatap keponakannya beberapa saat, seolah ingin memastikan bahwa yang baru saja didengarnya bukan sekadar ucapan seorang Nyai Anom yang sedang lemah."Jika begitu, pulanglah."Puspa mengangkat wajah. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Agastya yang sejak tadi diam akhirnya menarik napas pelan."Raden."Arendra menoleh kepadanya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan, tangannya langsung mengepal."Puspa belum bisa pergi."Puspa langsung menundukkan wajah. Ia tahu itu. Bahkan sebelum Agastya mengatakannya, ia sudah tahu.Punggungnya masih sakit. Tubuhnya belum pulih. Dan lebih daripada itu, ia tidak mungkin meninggalkan Wastu Gautama begitu saja setelah semua orang percaya ia baru saja kehilangan kandungannya.Kemuning mengusap punggung tangan Puspa. "Kamu ingin pulang, Nduk?"Puspa menggigit bagian dalam bibirnya. "... Iya. Ingin sekali." Suaranya begitu k
Keluarga Gautama akan datang setelah matahari condong ke arah barat.Seperti di kehidupan pertama, kain jarik sogan pemberian mendiang orang tuanya yang Puspa pakai, tapi bukan berarti ia adalah gadis yang menanti dengan harap.Puspa memakainya karena sekarang sudah tahu betul ke mana jalan ini ber
Besok ... acara yang ditunggu-tunggu seluruh wastu: Acara Sesan Nimas Dyah Puspanyidra. Wastu Lelana tidak pernah seberisik ini sejak Andara mendapatkan stempel resminya setahun lalu. Suara tumbukan alu di dapur bersahutan dengan teriakan Kemuning yang mengomando para pelayan. Namun, di tengah ke
Lembaran lontar tiba sore harinya, diantarkan Tilar dengan tatapan penuh keingintahuan. Puspa mengambilnya tanpa penjelasan dan menutup pintu kamarnya."Tujuh tahun kehidupan dirangkum." Puspa duduk di meja tulis, tangannya menyentuh pengrupak untuk menulis. "Akan sulit sekali," gumamnya pada diri
"NIMAS! JANGAN KERAMAS!"Pekikan Asri melesat menembus pintu kayu kamar mandi yang tipis, membuat Puspa tersentak hingga gayung yang dicengkeram sedikit goyang."Nimas ingat keningnya luka! Kalau airnya masuk ke luka, nanti perihnya sampai ke ubun-ubun! Nanti kalau lukanya busuk bagaimana? Kalau ke







