“Kak Revan! Bangun, Kak! Buka matanya!” Alya berteriak histeris. Suaranya terdengar sangat putus asa. Kedua tangannya mengguncang bahu Revan dengan kasar, berharap pria itu kembali membuka sepasang matanya. Namun, Revan tetap tidak merespons. Tubuh tegap itu kaku dan tak berdaya di atas lantai keramik yang dingin. Wajah pria itu sepucat mayat, tanpa rona kehidupan. Hujan badai di luar jendela masih mengamuk, mencambuk kaca dengan keras. Namun, kengerian di dalam kamar 204 ini jauh lebih mencekam bagi Alya. Cairan perak terus merembes keluar dari berbagai luka robek di tubuh pria itu. Cairan tersebut menciptakan genangan berkilau yang semakin melebar, perlahan menodai karpet krem milik Rini dengan warna keperakan yang ganjil. “Tolong, jangan mati di sini. Kak, kumohon, jangan tinggalin aku,” isak Alya. Air matanya menetes deras, j
Leer más