“ALYA?! YA TUHAN, ALYA?!”Jeritan histeris Rini memecah keheningan subuh di kamar asrama nomor 204. Botol minum yang sedang dipegang Rini terlepas begitu saja dari tangannya, jatuh menghantam lantai keramik dengan bunyi brak yang nyaring.Rini berlari menerobos ruangan, langsung menerjang dan mencengkeram kedua bahu Alya dengan sangat kuat. Matanya yang sembab menatap wajah Alya dengan campuran antara rasa tidak percaya, marah, dan kepanikan yang membuncah.“Lo dari mana aja selama empat hari ini, hah?!” bentak Rini. Suaranya pecah, air mata langsung meluncur deras membasahi pipinya. “Gue nyariin lo ke seluruh kampus! Gue melabrak Revan! Gue pikir lo udah mati diculik Vanya!”Rini mengguncang-guncang tubuh Alya dengan gemetar hebat, memeriksa sekujur tubuh Alya untuk memastikan sahabatnya itu tidak terluka parah.Alya menelan ludah dengan susah payah. Hatinya seperti diiris-iris melihat Rini yang menangis histeris karena mencemaskannya. Namun, mengingat instruksi Revan di loteng tadi,
Ler mais