“Lepas, Alya,” ucap Revan lagi ketika Alya hanya menggeleng sembari mendekap buku itu.Dengan sangat perlahan, Revan menarik buku itu dari dekapan Alya dan melemparnya ke tanah begitu saja. Mata abu-abu Revan yang masih menyala terang itu langsung tertuju pada tangan kanan Alya.Rahang Revan mengetat keras hingga giginya bergemeretak. Dia meraih pergelangan tangan Alya dengan sangat pelan, menyangganya dengan kedua tangannya sendiri.Tangan pria itu terasa sedingin es, perlahan memberikan sensasi sejuk yang sedikit meredakan sensasi terbakar di kulit Alya.Namun, tangan Revan gemetar hebat. Bukan gemetar karena hawa dingin, melainkan karena emosi yang meluap-luap. Pangeran es yang selalu mengendalikan segala situasi itu, kini tampak sangat kacau.“Saya nggak apa-apa,” ucap Alya mencoba menghibur dirinya. “Nanti juga sembuh.”Revan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Alya. Pertahanan yang selama ini dia bangun runtuh seketika."Kamu gila?!" desis Revan. Suaranya pecah, sar
続きを読む