"Bagi bangsaku, kami cuma milih satu belahan jiwa sepanjang hidup kami."Revan memulai ucapannya dengan suara yang rendah, bahkan hampir menyerupai bisikan seolah khawatir ada orang lain yang mendengarkan. Pria itu menghentikan pijatan lembutnya di kaki Alya, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat gadis itu dengan kesungguhan."Kami sebut itu Keterikatan Jiwa," lanjut Revan. "Sekali batin kami terkunci sama seseorang, kami nggak akan pernah bisa berpaling atau cinta orang lain seumur hidup kami. Kami nggak bisa milih takdir itu. Kami juga nggak bisa nolak gitu aja. Itu sudah menjadi ketetapan."Alya menahan napas berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Revan. Walau begitu, tidak ada yang bisa dia pahami. "Maksud Kakak gimana?""Aku nggak bisa biarin kamu terluka, Alya. Karena jiwaku terikat sama kamu sejak hari pertama kita ketemu di gerbang kampus," aku Revan jujur.Tangannya yang bebas bergerak naik, menggenggam tangan Alya yang bebas dari perban dengan sangat
続きを読む