“Aku yakin, Kak...” bisik Alya mantap.Alya menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Revan tanpa ada keraguan. Dia dengan lembut mengalungkan kedua tangannya di leher Revan, siap menyerahkan seluruh jiwanya pada pria yang amat dicintainya itu.Namun, Revan tidak melanjutkan hasratnya.Pria itu perlahan menahan bahu Alya. Sebuah senyuman yang luar biasa lembut dan hangat terbit di bibir pangeran Fae tersebut. Revan menunduk, lalu mendaratkan kecupan yang sangat lama dan penuh kasih di dahi Alya.“Nggak sekarang, Sayang,” bisik Revan di dekat telinga Alya. “Tubuhmu baru aja bangun dari koma empat hari. Fisikmu masih terlalu lemah, dan aku nggak akan biarin kamu kelelahan lagi.”Mendengar itu, Alya terdiam.“Lagipula, aku mau momen pertama kita ada di tempat yang aman dan indah, bukan kayak gini. Di tempat sembunyi yang aku nggak tahu debunya setebal apaan.”Alya menatap Revan dengan dada yang diliputi kehangatan luar biasa. Sepanjang hidupnya dibesarkan di panti asuhan, tidak pernah a
Leer más