Pintu kaca buram terbuka. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu begitu hening. Hanya dihiasi aroma obat-obatan yang menyeruak memaksa masuk ke indra penciuman seorang gadis yang baru saja masuk. Gadis itu, Rosélia berjalan mendekati sebuah ranjang rumah sakit di mana Maverick terbaring di sana. Mendengar suara pintu terbuka, pria itu menoleh. Begitu Rosélia berada tepat di samping ranjang, suasana tiba-tiba begitu canggung. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan, keduanya membisu. Namun, terlihat jelas adanya kebimbangan dari sorot mata mereka yang bergetar mencoba memfokuskan pandangan. Maverick berdehem pelan sebelum berkata, “kamu yang membawaku ke sini?” “Hmm,” jawab Rosélia. Dia menarik kursi di samping ranjang Maverick, kemudian mendudukan dirinya. “Kenapa kamu melakukannya?” Rosélia kira dia akan mendapatkan sebuah ucapan terima kasih, namun sepertinya pikirannya itu melayang terlalu jauh. “Aku hanya tak mau kamu mati di sana,” jawab Rosélia acuh. Kedua tangannya
Read more