Sejak dulu, Rosélia tak pernah bermain-main dengan mimpinya. Dia selalu bersungguh-sungguh, karena hanya itu yang tersisa dalam hidupnya.Rosélia merasa harus menggapainya, sendiri, dengan cepat dan tanpa cela. Itu juga motivasinya membeli bangunan besar di tanah kelahiran yang katanya akan dia jadikan galeri.Dan kali ini, mimpi lainnya sedang dia perjuangkan. Bedanya, bukan di tanah kelahirannya melainkan di negeri orang.“Ah, harusnya aku bisa mengantarmu ke sana di hari yang sangat penting ini,” sesal Cordelia. Hari di mana Rosélia menyerahkan karyanya, Cordelia malah harus pergi. “Perusahaan membutuhkanmu karena Daddy harus mengurus yang lain.” Begitu kata Daddy-nya dalam telepon beberapa saat lalu.“Tak apa. Aku bisa melakukannya sendiri. Selesaikan dulu urusanmu, nanti kita bertemu lagi setelah semuanya selesai,” jawab Rosélia. Gadis itu sudah siap pergi, begitupun dengan Cordelia. Tapi drama yang disebabkan sahabatnya itu membuat waktu sedikit terulur.“Kabari aku setelah me
Read more