Share

Bab 110

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-08-09 10:25:24

"Kamu... wanita asing tak tahu diri! Berani-beraninya kamu—" Kertawijaya berteriak murka, mencoba bangkit.

"Cukup, Kertawijaya," potong Satria tajam.

Satria mengepalkan tangan kanannya di dada. Pendar giok pada tato naga emasnya membumbung tinggi, lalu melepaskan satu sentakan aura Naga Murni yang menghantam lurus ke pusat tenaga batin Kertawijaya!

CRACK-BZZZZTTT!

"Aaaaghh! Energi batin-ku! Tidak... tidakkk!" Kertawijaya meraung melengking! Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di seluruh tub
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 123

    Baskoro menyandarkan punggungnya, menatap peta hologram dengan tatapan tajam nan bijaksana."Vanya," ucap Baskoro. "Berapa estimasi waktu mereka mencapai titik pendaratan pantai selatan?""Kalau kecepatan kapal siluman mereka konstan, mereka akan mendarat di pesisir selatan dalam waktu empat belas jam dari sekarang, Pak Baskoro!" sahut Vanya cepat. "Tepat saat tengah malam!"Hendra menunduk sedikit ke arah Baskoro dan Satria, menyampaikan laporan teknisnya. "Den Satria, Pak Baskoro... seluruh sistem pengamanan Faksi Himawan di wilayah selatan sudah siaga satu. Apa kita perlu mengerahkan armada utama untuk menghadang mereka di pantai?"Baskoro mengangkat sebelah tangannya pelan, seketika membuat suasana kembali hening menantikan keputusan sang Ketua Klan."Mengerahkan seluruh armada utama ke pantai selatan adalah kekeliruan strategi, Hendra," tegas Baskoro lugas. "Trah Sangkala terkenal kelicikannya. Serangan tiga divisi di pantai bisa jadi cuma umpan untuk memancing kekuatan utama kit

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 122

    "Sshhh!"Satria masuk hingga pangkal, lalu berhenti sejenak, membiarkan Liana menyesuaikan. Dahi bersandar di dahi istrinya. “Masih sempit, Li…”Liana membuka mata, menatapnya dengan pupil yang melebar. “Gerak… tolong gerak…”Satria mulai bergerak. Perlahan di awal—hampir keluar sepenuhnya, lalu mendorong kembali hingga dalam. Setiap hentakan terasa basah dan berat. Bunyi kulit bertemu kulit pelan-pelan memenuhi keheningan kamar. Liana memeluk lehernya erat, kuku-kukunya meninggalkan jejak di punggung yang masih penuh memar dari pertempuran.“Enak… ahh… di situ… lagi…”Satria mempercepat sedikit. Satu tangannya turun di antara mereka, jari-jari memutar klitoris Liana seirama hentakannya. Liana semakin basah, semakin terbuka. Cairannya membasahi pangkal kejantanannya setiap kali dia masuk.“Satria… aku mau… ahh… mau keluar…”“Keluarin,” bisik Satria serak di telinganya. “Keluarin di sekeliling aku. Biar aku rasain kamu bergetar.”Liana mencapai puncak dengan tubuh yang menegak. Dinding

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 121

    Malam itu, setelah pertempuran di Kediaman Utama, seluruh kompleks Himawan Tower masih dipenuhi asap dan debu. Tim keamanan dan pemadam kebakaran bekerja tanpa henti, tapi jelas bahwa Penthouse utama tidak bisa lagi dihuni—setidaknya untuk beberapa minggu ke depan.Pak Baskoro sudah mengatur segalanya. Villa cadangan Himawan Group di kawasan Jakarta Selatan disiapkan dalam hitungan jam. Tempat itu lebih kecil dari Penthouse, tapi lebih hangat—sebuah rumah bergaya kolonial dengan halaman luas dan pepohonan rimbun yang menenangkan.Mobil hitam berlapis baja berhenti di depan gerbang villa. Satria turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Liana yang menggendong Nagendra. Bayi itu tertidur pulas setelah seharian penuh dengan ketegangan dan teriakan—seolah-olah dia tahu bahwa dia aman sekarang.“Kita sampai, Li,” kata Satria pelan, tangannya meraih pinggang Liana.Liana menatap rumah di hadapannya. “Akhirnya kita kembali ke sini,” bisiknya. ***Di dalam villa, suasana terasa berbeda. Tid

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 120

    ***Sementara itu, di lantai rahasia bawah tanah Penthouse...BAMMM-BAMMM!Debu dan serpihan batu runtuh dari atap beton lantai bawah. Liana memeluk Nagendra erat-erat di sudut ruangan terlindung, sementara Larasati berdiri siaga di depan pintu baja rahasia dengan pedang perak tersarung setengah bilah.Baskoro yang memegang gagang kerisnya menatap ke atas dengan raut wajah sangat cemas."Guncangan di atas mendadak berubah..." gumam Baskoro hampir seperti bisikan, manik mata tuanya yang penuh pengalaman menangkap getaran aura suci. "Pendar energi Satria... memang persis seperti pendar aura mendiang ayahnya puluhan tahun lalu."Liana menoleh cepat pada ayahnya. "Maksud Papa? Pendar Satria semakin kuat?""Bukan cuma kuat, Li," sahut Baskoro dengan nada amat serius. "Itu pendar Klan Naga murni... pendar kebangkitan. Benar adanya mantuku dari keturunan yang lebih tinggi dari klan Himawan.""Ya, Pa. Aku bersyukur kami dipersatukan!"BZZT... CRACKLE...Suara Vanya mendadak bergetar hebat di

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 119

    Tanah di luar gedung mendadak ambles sejauh puluhan meter! Dari balik lubang raksasa itu, cakar merah berukuran belasan meter milik Naga Merah keluar merayap, menghantam dinding luar Penthouse dan siap meratakan seluruh gedung Kediaman Utama beserta isinya. Di detik yang sama, Vanya menjerit dari radio dengan nada yang teramat sangat ketakutan."Den Satria! Terjadi anomali gaib di bawah gedung! Pendar cermin giok yang retak itu memicu Segel Pembantaian Klan... energi Trah Sangkala berniat meledakkan inti tanah Jakarta bersama seluruh penghuninya!""Den Satria! Mbak Laras!" jerit Vanya dari balik radio komunikator dengan nada panik luar biasa. "Goncangan di bawah tanah semakin masif! Retakan cermin giok di tangan Tetua Utama menyerap pasokan energi gaib dari seluruh penjuru kota! Ini bukan sekadar ajian pelindung, mereka berniat meruntuhkan Penthouse ini ke dalam kawah racun!"Larasati mengusap keringat di keningnya, mempererat genggaman pada gagang pedang perak Lembah Kelabu. "Satria

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 118

    Satria masih diam. Tapi tangannya mulai bergerak—perlahan, seperti sedang meraba sesuatu yang tidak terlihat. Liontin giok di dadanya berdenyut semakin kencang, dan untuk pertama kalinya, Satria mendengar suara di dalam kepalanya. Suara yang tidak dia kenali, tapi terasa akrab."Bangkitlah, putraku..."Suara itu lembut, tenang, dan penuh kasih. Dan Satria tahu, tanpa perlu bertanya, bahwa itu adalah suara ayahnya.Tetua Kedua menambahkan dengan suara sinis, "Ayahmu dan ibumu, kakak-kakakmu, seluruh kerabatmu—kami bantai dalam satu malam. Kami membakar istana Naga Murni hingga rata dengan tanah. Hanya satu bayi yang lolos... dan kami mengira dia mati terbawa arus sungai."Tetua Utama menatap Satria dengan mata yang penuh kebencian. "Ternyata kau selamat. Dan kau tumbuh menjadi duri yang sekarang mengganggu kami lagi. Secepatnya, Satria. Secepatnya duri itu akan kami cabut. Untuk selamanya."Satria terdiam. Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Semua yang dia tahu tentang dirinya—tent

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status