Satria masih diam. Tapi tangannya mulai bergerak—perlahan, seperti sedang meraba sesuatu yang tidak terlihat. Liontin giok di dadanya berdenyut semakin kencang, dan untuk pertama kalinya, Satria mendengar suara di dalam kepalanya. Suara yang tidak dia kenali, tapi terasa akrab."Bangkitlah, putraku..."Suara itu lembut, tenang, dan penuh kasih. Dan Satria tahu, tanpa perlu bertanya, bahwa itu adalah suara ayahnya.Tetua Kedua menambahkan dengan suara sinis, "Ayahmu dan ibumu, kakak-kakakmu, seluruh kerabatmu—kami bantai dalam satu malam. Kami membakar istana Naga Murni hingga rata dengan tanah. Hanya satu bayi yang lolos... dan kami mengira dia mati terbawa arus sungai."Tetua Utama menatap Satria dengan mata yang penuh kebencian. "Ternyata kau selamat. Dan kau tumbuh menjadi duri yang sekarang mengganggu kami lagi. Secepatnya, Satria. Secepatnya duri itu akan kami cabut. Untuk selamanya."Satria terdiam. Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Semua yang dia tahu tentang dirinya—tent
Last Updated : 2026-08-11 Read more