Nagendra menarik napas dalam, dadanya naik-turun di bawah pipi Aurelia. Satu tangannya naik, mengusap rambut basah perempuan itu dengan sangat lembut, sementara tangannya yang lain tetap menekan punggung Aurelia seolah ingin menyatukan dua tubuh yang retak itu menjadi satu.“Dengerin aku baik-baik, Rell,” suaranya rendah, serak, penuh getar yang ditahannya dengan susah payah. “Aku nggak peduli apa yang mereka bilang. Aku nggak peduli berapa kali mereka nyentuh kamu, berapa kali mereka nyoba ngilangin harga dirimu. Yang aku peluk sekarang… yang aku cium… yang aku jaga sampe napas terakhirku… adalah Aurelia. Wanita yang aku cintai lebih dari darah nagaku sendiri. Kalau kamu rusak, biar aku yang nambal. Kalau kamu kotor, biar aku yang bersihin pake caraku sendiri. Aku nggak akan pergi.”Aurelia terisak pelan, tubuhnya gemetar hebat di dalam dekapan itu. Ia mengangguk kecil, wajahnya semakin terbenam di leher Nagendra, seolah ingin menyatu dengan detak jantung yang stabil dan hangat itu.
Huling Na-update : 2026-10-11 Magbasa pa