Desahan kecil itu keluar dari tenggorokan Liana saat lidah Satria menyusup masuk, menuntut, mengeksplorasi, seolah ingin menghapus seluruh kelelahan malam ini hanya dengan satu ciuman. Tangan Satria yang masih memeluk pinggangnya kini naik, menelusuri lengkungan punggung yang terbuka dari balik gaun navy blue, jari-jarinya hangat dan sedikit kasar di kulit halus Liana. Setiap usapan membuat tubuh Liana semakin melemas, semakin menempel erat ke dada bidang suaminya.Satria memperdalam ciuman. Dia tidak buru-buru, tapi juga tidak memberi ruang bagi Liana untuk berpikir. Napas mereka saling bertubrukan, panas, cepat. Ketika akhirnya bibir mereka berpisah sejenak, benang saliva tipis sempat terlihat di antara mereka sebelum putus. Liana terengah pelan, dahi bersandar di dahi Satria, mata setengah terpejam.“Sayangg…” suaranya serak, hampir seperti bisikan.“Hm?” Satria menjawab dengan suara bariton rendah yang bergetar di dada. Dia tidak melepaskan pinggang Liana. Sebaliknya, dia menarik
Last Updated : 2026-07-27 Read more