Kata-kata tulus itu membakar sisa-sisa pertahanan emosi Liana. Tanpa menunggu lebih lama, Liana mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Satria, menjinjitkan kakinya, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah pagutan yang dalam, hangat, dan sangat emosional.Ciuman mereka di tepi balkon berangin dingin itu mengalun tanpa ada rasa terburu-buru. Ini bukan ciuman yang dipicu oleh pelepasan energi akibat pertempuran spiritual, melainkan murni ciuman kerinduan akan ketenangan dan cinta yang telah teruji oleh berbagai badai. Lidah Satria menyesap lembut manisnya rongga mulut Liana, sementara tangan besarnya merayap menelusuri lekuk punggung mulus Liana, memanjakan setiap sentuhan di atas kain rajut tipisnya.***Sore harinya, saat kabut tebal perlahan mulai turun membungkus seluruh perbukitan dan hujan gerimis halus mulai membasahi kaca-kaca vila, udara dingin Puncak mencapai puncaknya.Di dalam kamar utama yang temaram, perapian kayu bakar menyala lembut, memancarkan cahaya jingga hangat
Last Updated : 2026-07-23 Read more