"Kamu selalu menanggung semuanya sendirian, Sat," tutur Liana, suaranya melembut bagai bisikan angin malam. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga aroma wangi sabun melati dari tubuhnya mengalahkan aroma uap panas dari tubuh Satria. "Sejak di Solo, sampai sekarang di Jakarta... semua orang menginginkan sesuatu dari kamu. Tapi yang kamu lakukan cuma melindungi aku dan Papa."Satria membuka matanya perlahan. Pendar keemasan di manik matanya kini telah sepenuhnya hilang, digantikan oleh warna hitam pekat yang teduh dan sangat dalam. Dia menatap wajah cantik Liana yang berada sangat dekat dengan wajahnya."Melindungi kamu itu bukan beban, Li. Itu adalah penyeimbang hidup saya," ucap Satria tulus.Tangan kanan Satria yang besar dan basah merayap naik ke tengkuk Liana, menarik lembut kepala gadis itu mendekat. Liana tidak menolak; dia justru memejamkan matanya, menyambut pagutan hangat dari bibir tegas Satria yang kini terasa sangat basah dan dingin oleh air mandi.Ciuman mereka di dal
Last Updated : 2026-07-21 Read more