Lantaran sulit mendapatkan si cantik yang dingin dan sulit digapai itu, mereka malah ingin melihatnya hancur, atau bahkan, menghancurkannya dengan tangan mereka sendiri.Amara mengabaikan tatapan mereka dan kembali fokus untuk menggambar. Namun, baru membuat beberapa goresan, bola basket itu sudah kembali menggelinding ke dekat kakinya."Maaf, ya. Tolong ambilin lagi dong!"Mereka menatap Amara sambil tersenyum lebar.Tanpa ekspresi sedikit pun, Amara langsung melemparkan bola itu kembali ke arah mereka.Ini sudah ketiga kalinya."Woi! Bolanya!"Setelah yang kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan kalinya, kesabaran Amara pun akhirnya habis.Amara melirik jam tangannya, tepat pada waktunya."Gedung ini sudah mau tutup, kalian harus pergi sekarang."Setelah berkata seperti itu, Amara memungut bola di dekat kakinya dan akhirnya berdiri.Tanpa melirik orang-orang itu sedikit pun, Amara langsung memasukkan kembali bola basket itu ke dalam keranjang.Yoga memberikan kode lewat kedipan mata ke
Read more