Mina menatap Aura dengan sepasang mata yang memancarkan kejujuran sekaligus kejutan halus. Perubahan sikap Aura yang begitu mendadak, dari dingin menjadi kembali ramah seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, membuat pelayan setia itu merasa lega. Rasa simpatinya pada wanita muda di hadapannya mengalahkan seluruh keraguannya."Tentu saja, Nyonya Muda," sahut Mina lembut seraya mengangguk pelan. "Apa yang bisa saya bantu? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"Aura menelan ludah, berusaha keras menyembunyikan getaran gugup di jemarinya. Ia mengusap pipi kirinya yang memar, memasang raut wajah penuh kesakitan seolah tak sanggup lagi menahan rasa perih."Pipi bekas tamparan Nyonya Elea kemarin ... rasanya mendadak sangat panas dan perih lagi, Mina," ujar Aura dengan suara yang dipelankan, sengaja dibuat lirih dan agak gemetar. "Krim dari dokter tidak mempan sama sekali. Dulu, aku selalu mengoleskan salep herbal khusus untuk luka memar. Tapi salep itu susah didapat, hanya bisa dibeli di
Read more