Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yang melilit dan menyesakkan napasnya.Di depannya, duduk seorang pria berwajah arrogant yang namanya bahkan tidak ada yang berani menyebut secara lantang. Xavier Valerius.Pria itu duduk tenang dengan menyilangkan kakinya, mengenakan setelan jas custom made berwarna hitam gelap. Matanya tajam, dengan tatapan sedalam palung laut dan memancarkan aura predator yang membuat suhu di ruangan itu terasa seperti kekurangan oksigen.Di atas meja jati di hadapannya tergeletak sebuah map dokumen, dan sebuah cek dengan sepuluh angka nol yang tertulis nyata. Ya, angka senilai sepuluh miliar.“Tandatangani sekarang juga, Bramasta!” Suara Xavier rendah, namun memiliki otoritas yang mutlak.Bramasta Wijaya, p
Terakhir Diperbarui : 2026-05-19 Baca selengkapnya