Selama penerbangan dari Jakarta menuju Grindlandia, aku didudukkan di bagian kabin yang agak jauh dari tempat Domnick dan para stafnya. Olivia bilang, jarak itu sengaja diatur supaya kesibukan Domnick tidak mengganggu istirahatku. Katanya, aku perlu tenang sebelum tiba di rumah baruku. Rumah baru.Kata itu saja sudah cukup membuat perutku mual.Menjelang waktu makan malam, pintu sekat kabinku diketuk pelan. Domnick muncul, kali ini tanpa jas resmi, hanya kemeja putih dan celana bahan rapi. Tetap saja, auranya sulit disamakan dengan penumpang biasa. “Masih jauh?” aku bertanya lebih dulu, sekadar memecah hening. “Sekitar tiga jam lagi,” jawabnya.Tiga jam. Tiga jam lagi aku akan mendarat di negara yang bahkan letaknya baru kucari di peta seminggu lalu. Kalau tidak salah, Grindlandia berada di gugusan kepulauan kecil antara Samudra Pasifik dan Australia bagian utara, bekas jajahan Inggris yang kaya minyak dan gas. “Apa yang kamu pikirkan?” suara Domnick datang memotong renunganku.Ak
Terakhir Diperbarui : 2026-06-14 Baca selengkapnya