"Kamu kuat lari kan?" Napas pria itu terasa amat panas di ceruk leher Aruna, berbau anyir darah pekat. Kecepatan lari Eros mulai melambat begitu mereka berhasil keluar beberapa ratus meter dari gerbang luar hanggar. "Bisa, tapi nggak secepat kamu," jawab Aruna dengan jantung yang berdegup kencang. Tubuh kekar Eros mendadak limbung, berlutut menghantam aspal jalanan yang dingin dan berbatu. Dekapan eratnya pada pinggang Aruna terlepas, membuat wanita itu ikut terjatuh di sampingnya. "Aku udah nggak kuat." Eros akhirnya tumbang tak sadarkan diri, bibirnya membiru. "Eros, bangun!" Aruna mengguncang-guncang bahu kokoh pria itu dengan tangan yang gemetar. Suara derap langkah sepatu bot yang berat bergema, mengepung posisi mereka tanpa celah. Madam Valeska melangkah maju, dikawal oleh belasan moncong senapan yang kembali membidik tepat ke arah kepala Eros. "Aset 01, balik ke kamar atau dia kutembak mati," ancam Madam Valeska. "Jangan!" pekik Aruna spontan, memasang badannya d
اقرأ المزيد