"Luruskan punggungmu, Aruna! Kau bukan pelacur murahan dari Sektor Luar!" Suara Paman Juna menggelegar di ruang makan bunker yang kedap suara. Aruna tersentak. Tangannya yang memegang sendok perak gemetar hebat. "Maaf, Paman," bisik Aruna pelan. Ia segera memperbaiki posisi duduknya. Belasan tahun ia hidup seperti ini. Terisolasi, didoktrin, dan dipaksa menjadi sesempurna mungkin. Paman Juna batuk tersedak. Ia menekan dadanya yang tampak sesak. Darah segar merembes di saputangan sutranya yang mahal. "Ingat, dunia di luar sana sudah mati sejak 2110. Radiasi nuklir sudah membusukkan paru-paru manusia," rintih Juna. Aruna menatap piringnya dengan kosong. "Tapi Paman bilang, aku akan segera ke Sanktuari?" "Hanya kamu yang murni, Aruna. Kamu dididik dengan etiket kelas atas agar layak menginjakkan kaki di sana." Juna mencengkeram lengan Aruna dengan kuku-kukunya yang tajam. Matanya yang merah menatap Aruna dengan tatapan lapar dan obsesif. "Kau harus menjadi wanita paling anggun.
Last Updated : 2026-05-19 Read more