"Anak kita sendiri?" cicit Aruna, suaranya nyaris hilang tersapu angin malam.Jisik kertas foto kuno itu bergetar hebat di sela jemarinya yang mulai terasa dingin dan kaku. Ia menatap deretan kata bertinta hitam tersebut, membiarkan sepasang matanya bergerak liar dari satu huruf ke huruf lainnya.Jenderal Arthur kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela besar, menolak menatap Aruna yang kini tampak goyah di atas kakinya. Keheningan pekat kembali merayap, hanya menyisakan kepakan sayap burung hantu yang hinggap di dahan pinus luar."Jangan tanya apa pun lagi, Nona Aruna," sahut Arthur, suaranya terdengar sangat datar. "Otakmu tidak akan sanggup menampung sisa kebohongan yang ditinggalkan bajingan itu."Pintu jati besar itu terbuka kembali tanpa ketukan pelan.Barkie melangkah masuk dengan nampan perak di tangannya, bersiul kecil."Aduh, tegang sekali muka kalian, padahal dunia udah lama hancur sejak tahun 2
Baca selengkapnya