分享

Bab 37

作者: Marsalsa
last update publish date: 2026-06-19 20:00:23

"Akhirnya, aku bisa sendiri," gumam Aruna sambil perlahan menggeser kakinya turun dari tepi ranjang yang empuk.

Meskipun pergelangan kakinya masih terasa agak kaku karena balutan perban, Aruna memaksakan diri melangkah pelan mendekati sebuah meja kerja kayu besar di dekat jendela.

Sepasang matanya langsung berbinar cerah saat menangkap sebuah buku tebal bersampul kulit lembu kuno yang tergeletak di atas sana.

"Astaga, ini kan literatur sejarah pra
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 62

    "Keluar," ucap Dante.Suaranya tidak keras, tapi getarannya membuat udara di dalam kamar terasa berat. Dante tidak bergerak dari ambang pintu, menghalangi satu-satunya jalan keluar dengan tubuh tegapnya.Zen tidak langsung bergerak dari kasur Aruna. Ia justru merapikan jubah sutra hitamnya yang sedikit kusut, lalu menatap Dante dengan ujung bibir yang tertarik ke atas."Galak banget, Komandan," sahut Zen santai. "Baru juga mau reuni kecil-kecilan."Dante melangkah masuk ke dalam kamar. Sol sepatu boot militernya meninggalkan jejak debu kelabu di atas lantai kayu yang bersih.Aruna melangkah mundur hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang. Tangannya meraba sprei di belakang tubuhnya, mencari tumpuan untuk tangannya yang mulai basah oleh keringat dingin."Saya tidak akan mengulang perintah, Zen," desis Dante.Jarak di antara kedua pria itu kini hanya tersisa dua langkah. Dante berdiri menjulang, membuat sos

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 61

    "Madam berencana mau ratain sektor bawah," bisik Zen.Langkah kakinya melambat di samping Aruna. Jubah sutra hitam yang ia kenakan menyapu lantai marmer putih yang dingin. Sepasang matanya terus bergerak menyusuri setiap celah beton di dinding koridor."Dia mau nyeleksi orang-orang nggak berguna bagi Dewan Pusat."Aruna menghentikan langkah kakinya tiba-tiba. Sol sepatunya berdecit nyaring di atas lantai marmer. Ia menatap Zen dengan dada yang naik turun dengan cepat."Dia manusia apa bukan sih?" tanya Aruna. "Enak banget main rata-ratain gitu aja."Zen meloloskan tawa pendek dari tenggorokannya. Rambut hitam lurusnya yang panjang bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis."Manusia Excel itu," sahut Zen. "Apa-apa berdasarkan data, statistik gitu aja terus.""Dia nggak inget umurnya kah?" gerutu Aruna. "Udah tua, bukannya tobat malah makin jadi."Malik yang berjalan di

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 63

    "Lepaskan dia," ucap Zen. Suaranya tidak lagi menyisakan nada bercanda yang biasanya terdengar. Dia melangkah keluar dari lift, menghalangi jalan para penjaga berseragam hitam dengan tubuh rampingnya. Kedua penjaga itu melirik ke arah Dante, menunggu instruksi lebih lanjut tanpa melonggarkan cengkeraman pada lengan Aruna. Aruna meringis pelan saat merasakan perban di lengan kanannya semakin basah. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya, membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahi. "Ini perintah langsung dari Madam Valeska, Zen," sahut Dante dingin. Pria bertubuh besar itu melangkah maju. Zen memicingkan matanya, menatap tetesan darah di lantai dengan sudut bibir yang melengkung sinis. Dia menarik napas panjang, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah sutra hitamnya. "Aku tidak peduli pada wanita tua itu," balas Zen dengan n

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 60

    "Zen, lepasin. Ini koridor umum," desis Aruna, mencoba menyikut perut pemuda itu dengan sikutnya yang tidak terluka. Zen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selama ini hanya bisa ia pantau lewat sensor biometrik komputer. "Bentar dulu, Aruna. Aku kangen banget," bisik Zen, suaranya melembut. "Zen, ada Malik di belakang!" Aruna mendesis, tubuhnya menegang sempurna. Zen akhirnya melonggarkan pelukannya, kedua tangannya tetap bertumpu santai di pinggang Aruna. Ia membalikkan tubuh gadis itu agar mereka saling berhadapan. "Biarin aja Si Tukang Cuci Otak itu lihat," Zen melirik Malik dari sudut matanya dengan cengiran provokatif. "Dia kan cuma bisa manipulasi, nggak bisa bikin kamu senyum kayak gini." Malik yang berdiri dua langkah di belakang mereka hanya menatap Zen dengan wajah lempeng. "Tangannya baru dijahit, Zen. Kalau kamu rem

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 59

    "Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip. Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup. Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahut Zen lempeng. Membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah androgininya yang tajam tapi cantik. Jenderal mengerutkan keningnya, menatap tajam anak muda berusia dua puluh satu tahun yang mendadak muncul di markas utamanya itu. "Dante? Kenapa?" "Saya disuruh jaga di sektor 7, buat mantau pergerakan Madam," balas Zen sembari merapikan jubah sutra hitamnya yang tampak kontras dengan seragam militer di sekitarnya. "Sedangkan dia malah enak-enakan

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 58

    "Malik, sembunyi!" bisik Aruna panik, matanya bergerak liar mencari sudut ruangan yang aman. Malik tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan gerakan tangkas tanpa suara, ia meluncur ke bawah meja kayu panjang yang tertutup taplak tebal di dekat sofa. Aruna segera membetulkan posisi duduknya di sofa kulit, membuka buku puisi bersampul hijau daun, dan berpura-pura tenang. Pintu ganda itu terbuka lebar, menampilkan sosok tinggi Dante yang masih mengenakan seragam dinas lengkap dengan lencana yang berkilat dingin. "Siapa yang kasih kamu izin ke sini?" tanya Dante.. Aruna mendongak, mencoba menahan getaran di suaranya. "Aku... cuma mau cari bacaan. Tadi Sophie yang kasih kuncinya." Dante melangkah masuk, ia berhenti tepat di depan sofa, menjulang tinggi di hadapan gadis itu. "Sophie nggak punya hak untuk kasih izin di mansion ini," desis Dante dingin, matanya beralih ke buku di pan

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 21. Rahasia Laboratorium Paman

    'Si Zen apa-apaan sih! Kenapa Dewan Pusat bisa tau secepat ini?' batin Aruna mengumpat habis-habisan dalam hati. Padahal mereka sudah sepakat bahwa setiap informasi terbaru harus dilaporkan ke Aruna terlebih dahulu, tapi Zen justru menusuknya dari belakang. Langkah Madam Valeska terhenti di depan

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 27. Tawaran di Balik Syarat

    "Kok kamu balik lagi?" tanya Aruna, suaranya memecah keheningan kamar steril setelah pintu kembali bergeser terbuka. Eros melangkah masuk dengan ragu, pandangannya langsung terkunci pada sosok pria berseragam militer lengkap yang berjalan tepat di belakangnya. "Kebetulan aku ketemu Komandan di d

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 26. Sisi Lain Eros

    Cilian berdiri, menarik ritsletingnya. "Grafik apa itu? Kenapa ada banyak sekali dan bertabrakan?" "Mana ku tau, grafiknya kacau gini." Zen mengetuk-ngetuk layar monitor. "Itu apa? Kenapa bisa?" Valeska berusaha memahami garis-garis yang bertabrakan satu sama lain. Tidak ada pembeda dari keti

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 22. Madam Suka Zen

    "Aku hanya membalas budi pada Madam Valeska," sahut Zen santai dari balik pengeras suara. "Lagipula, dengan mengikuti permainannya, aku bisa mencicipi dan menikmati tubuhmu sepuasnya, bukan?" Aruna mengepalkan tinjunya erat-erat, matanya berkilat penuh amarah yang membakar dada. "Kamu pikir tubuhk

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status