"M-Maaf, saya nggak tahu. Saya nggak lihat apa-apa kok," ucap prajurit itu cepat. Kepalanya menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Malik menoleh tanpa mengubah posisi duduknya. "Masuk aja." "Ini, saya bawakan kotak obat." Prajurit itu melangkah ragu, menyodorkan sebuah kotak logam putih. "Tadi saya nggak sengaja lihat wanita itu terluka." "Oh, terima kasih. Kamu bisa kembali." "Siap, laksanakan!" Prajurit itu menegakkan tubuh, memberi hormat, lalu berbalik dan menghilang di balik pintu besi. Malik memindahkan posisi duduknya ke tepi ranjang. Tangannya bergerak mengambil kasa, mulai membersihkan luka robek di tangan Aruna, lalu membebatnya dengan perban. Begitu selesai, Malik menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu di samping ranjang. Matanya terpejam dalam posisi duduk. Garis cahaya pagi jatuh tepat di atas selimut Aruna. Malik m
Read More