Dentang lonceng perunggu bertanduk naga bergema tiga kali dari puncak menara pengawas istana, menandai bergantinya giliran jaga malam di sepanjang tembok ibu kota. Angin dingin dari arah pegunungan utara berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan ancaman perang yang kian dekat. Di balik gerbang besi Kediaman Agung, situasi tak kalah mencekam. Keputusan Ibu Suri Mu Rong menyerahkan wewenang militer sementara kepada putra kandungnya, Pangeran Xiu Wei, telah mengubah peta kekuatan di ibu kota hanya dalam kurun waktu semalam.Di dalam paviliun strategi yang tersembunyi di bawah markas garnisun lini tengah, lentera minyak bergoyang pelan menerangi peta wilayah ibu kota yang terbentang di atas meja kayu ek. Pangeran Xiu Wei berdiri tegap dengan mantel beludru hitam. Di seberang meja, Jenderal Meng, komandan tertinggi Pasukan Lini Tengah yang membawahi dua puluh ribu prajurit pelindung dinding dalam, duduk bersedekah tangan dengan wajah berkerut tebal."Aku mengabdi pada tahta dan kesel
Read more