ANMELDENSatu bulan berlalu sejak kewajiban "puasa" Bumi dicabut, dalam suasana yang "menggairahkan" dan membahagiakan. Pagi menjelang di Mansion Valerine dengan sinar matahari keemasan yang menerobos celah tirai kamar utama. Suasana begitu tenang, diisi oleh suara napas teratur dari box bayi di sudut ruangan tempat Arka Samudra Valerine tertidur lelap setelah menyusu pada pukul tiga dini hari tadi.Di atas ranjang king size, Vania menggeliat pelan dalam tidurnya. Matanya masih setengah terpejam, namun ia merasakan sensasi geli yang aneh sekaligus nikmat menjalar di bagian dadanya. Sesuatu yang hangat, basah, dan kenyal sedang menghisap puting payudaranya dengan ritme pelan namun teratur.'Ah... perasaan tadi Arka sudah dipindah ke box... kok rasanya beda ya?' batin Vania setengah sadar.Perlahan-lahan, Vania membuka matanya lebar-lebar. Alih-alih melihat bayi mungil berkepala botak, pandangannya justru disambut oleh sepasang rambut hitam tebal yang sedang membenamkan diri di dadanya. Pria
Dua bulan berlalu begitu cepat di Mansion Valerine. Masa nifas Vania resmi berakhir, menandai selesainya "periode darurat nasional" bagi kaum adam di rumah tersebut—terutama bagi Bumi yang selama enam puluh hari terakhir harus menahan diri dengan tingkat kesabaran setara biksu bertapa di gua.Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kamar utama tampak temaram, diterangi cahaya lampu tidur berwarna keemasan. Arka Samudra Valerine, sang bayi kesayangan, sudah terlelap nyenyak di dalam box bayi yang berada di sudut ruangan.Di atas ranjang king size, Vania baru saja selesai merapikan pakaiannya setelah menyusui. Ia mengenakan jubah tidur satin berwarna rose gold berlapis renda tipis yang membuatnya terlihat makin memesona pasca-melahirkan.Tiba-tiba, dari arah kamar mandi, Bumi keluar hanya mengenakan celana bahan hitam tanpa baju, memamerkan otot dada bidang dan perut six-pack-nya yang basah oleh sisa air wudhu—atau mungkin sengaja dibasahi agar terlihat dramatis. Pria itu
Pintu kamar perawatan VIP kelas presiden itu terbuka perlahan. Sofia melangkah masuk lebih dulu dengan mata yang sedikit sembap dan memerah, namun senyuman hangat nan lega terpancar jelas di wajah cantiknya. Di belakangnya, Bumi mengekor dengan raut wajah yang jauh lebih tenang, seolah beban seberat gunung yang bertahun-tahun mengimpit dadanya baru saja diangkat tak berbekas.Vania yang sedang bersandar di ranjang langsung menghentikan kegiatan menyusuinya, menatap Sofia dan suaminya bergantian dengan raut cemas. Laras yang sedang mengupas buah apel di sofa pun ikut menahan napas."Mama..." panggil Vania pelan, khawatir guncangan emosi akan memicu penyakit jantung Sofia.Sofia berjalan mendekati ranjang Vania, lalu mengelus lembut puncak kepala menantunya itu. "Vania, Sayang... terima kasih, ya. Terima kasih sudah melahirkan cucu yang begitu tampan untuk Mama."Ia lalu menoleh ke arah Bumi yang berdiri di samping ranjang, menatap pria itu dengan binar kasih sayang murni seorang ibu."
Suara dengkur halus dari box bayi berbalut selimut lembut menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruang perawatan bayi VIP pagi itu.Sofia berdiri di samping kaca box, menatap cucunya yang mungil dengan binar mata penuh kehangatan. Jemarinya yang lentik mengelus pipi kemerahan bayi tersebut dengan sangat berhati-hati. Di sebelahnya, Bumi berdiri tenang, memperhatikan raut bahagia di wajah wanita yang sangat ia hormati itu."Lucu sekali... hidungnya mirip sekali denganmu waktu kecil," gumam Sofia pelan, tersenyum manis.Namun, sedetik kemudian, senyuman Sofia perlahan memudar. Ia tak mengalihkan pandangannya dari si bayi, tetapi suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang—sebuah ketenangan yang justru menyimpan getaran kecurigaan yang ditahan sejak lama."Aksa..." panggil Sofia pelan.Bumi menoleh, menatap Sofia. "Ya, Ma?""Kenapa Vania memanggilmu 'Bumi' saat berjuang di ruang persalinan tadi?" tanya Sofia. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Bumi. "Sej
Keheningan Mansion Valerine pecah secara mendadak pada pukul tiga pagi.Di dalam kamar utama yang tenang, Vania mendadak terbangun dengan kening berkerut menahan rasa mulas yang luar biasa hebat di perut bawahnya. Punggungnya terasa seperti dihantam sesuatu yang berat, dan saat ia mencoba menggeser tubuhnya, ia merasakan cairan hangat membasahi kasur.Vania menarik napas panjang, lalu menyikut pelan pria di sebelahnya yang sedang tidur nyenyak dengan posisi telentang dan mulut sedikit terbuka."Bumi... bangun, Bumi..." bisik Vania sambil menahan napas.Bumi hanya bergumam pelan, membalikkan badan dan memeluk gulingnya makin erat. "Udah malam, Yang... besok saja kalau mau dielus-elus perutnya, lagi...""Bumi! Air ketubanku pecah!" seru Vania, kali ini dengan nada melengking yang tidak bisa dibantah.Mata Bumi seketika membelalak lebar. Kata 'ketuban' seolah memicu alarm bahaya tingkat tinggi di dalam otaknya. Dalam hitungan detik, aura mantan petarung jalanan yang biasanya tenang dan t
Tiga hari menjelang Gala Dinner, penderitaan Laras bukannya berkurang, justru makin mencapai puncaknya.Di ruang dansa khusus lantai dua Mansion Valerine, suara ketukan sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter beradu dengan lantai kayu polished. Laras melangkah terpincang-pincang dengan wajah mengernyit menahan pegal, sementara di atas kepalanya bertumpuk dua buah buku ensiklopedia tebal yang siap meluncur jatuh kapan saja."Tegakkan bahumu, Laras! Pandangan lurus ke depan, jangan menunduk menatap lantai!" seru seorang instruktur etiket paruh baya berwajah kaku yang disewa khusus oleh Sofia. "Bayangkan dirimu adalah seorang ratu yang sedang melangkah menuju singgasana, bukan preman yang sedang melarikan diri dari kejaran petugas!"Laras menggeram gemas di dalam hati. Ratu dari mananya?! Ini mah kaki rasanya mau copot dari panggul! batinnya menjerit.Sofia yang duduk di sofa panjang sambil menikmati cangkir teh porselennya menyahut anggun, "Ingat, Laras... nanti malam ada ratusan mata
Sepuluh menit.Bagi sebagian orang, sepuluh menit hanyalah waktu yang singkat untuk menyeruput secangkir kopi panas atau menunggu kereta datang. Namun bagi Bumi Ganendra, sepuluh menit ini adalah sisa masa hidupnya sebagai manusia merdeka. Setelah ini, seluruh hidup dan raganya akan menjadi milik V
"Hamili aku."Dua kata itu menghantam kesadaran Bumi Ganendra lebih keras daripada pukulan balok kayu para preman beberapa menit lalu.Dunia di sekelilingnya mendadak hening. Tetesan hujan yang menghantam aspal tidak lagi terdengar. Ia menatap Vania seolah wanita itu baru saja kehilangan akalnya.
Suara monitor jantung itu terdengar seperti lonceng kematian yang berdetak konstan di telinga Bumi Ganendra. Pip... Pip... Pip... Setiap bunyi yang keluar terasa seperti jarum yang menusuk kesadarannya. Di balik kaca ruang ICU yang dingin, seorang gadis remaja terbaring pucat dengan berbagai s
Atmosfer di sekitar mereka mendadak membeku. Rey merasakan peluh dingin mulai merembes di balik kerah kemeja mahalnya. Tekanan yang diberikan pria di depannya ini, entah mengapa terasa jauh lebih pekat daripada Aksa yang ia kenal."M-maafkan kelancangan saya, Tuan. Saya hanya mencemaskan kesehatan







