Klang!!!! Bumi mendengus kasar, menjatuhkan pisau peraknya ke atas piring hingga menimbulkan bunyi benturan yang nyaring, dan memutus rentetan kalimat merendahkan yang keluar dari bibir Sofia. Seluruh pelayan yang berdiri berjejer kaku di sepanjang dinding marmer seketika menahan napas, tubuh mereka gemetar ketakutan melihat emosi sang tuan besar yang dimulai sejak pagi buta. Ia mendongak, menatap Vania dengan sepasang mata kelabu badai yang memancarkan pendar tiran yang sangat mengintimidasi. "Berhenti membantah ibuku saat berbicara, Vania. Duduk! Jangan berdiri saja seperti orang bodoh," desis Bumi parau, suaranya yang berat, dalam dan penuh arogansi—sebuah titah gelap yang tidak mengenal penolakan. Mendengar kecaman keras yang dilemparkan anaknya kepada sang menantu, sudut bibir Sofia seketika terangkat, mengulas senyuman puas yang sarat akan kemenangan. Di mata wanita itu, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding diinjak-injaknya harga diri Vania di depan umum, oleh anakn
Read more