Kania menghela napasnya setelah melepas tas selempang yang ia kenakan. Kemudian duduk di tepi tempat tidur sambil melepas sepatu. Pada saat itu bunyi ponselnya terus mengganggu. Ia seakan tahu dari siapa notifikasi itu berasal, hingga ia enggan menerima panggilan itu. Ia tak peduli, dan memilih mengabaikannya dengan meninggalkannya ke kamar mandi. Sengaja ia berlama-lama disana, membersihkan tubuhnya, bernyanyi, dan bermain busa. Kapan lagi ia bisa hidup sebebas ini, mandi setenang ini tanpa buru-buru melakukan pekerjaan lain. Tapi jika di pikir-pikir ia sedikit rindu dengan Naren, bagaimanapun ia sudah cukup lama merawatnya, ia yang sudah menemaninya tidur setiap malam, menemaninya bertumbuh dari yang semula hanya terbaring dan menangis sampai dia bisa belajar berjalan, semua kebiasaannya ia selalu memperhatikan. Sungguh, ia tak menyangka bisa melewati semua itu, pengalaman itu akan menjadi momen yang berharga untuknya. Paling tidak, seburuk-buruknya ia menjadi manusia, ia masih
Read more