Rani melangkah masuk ke ruang kelas empat B dengan sepatu ketsnya yang menyisakan jejak lem Aibon kekuningan di pinggiran sol. Setiap tapaknya mantap. Tidak ada lagi keraguan. Udara kelas yang pengap seakan terbelah oleh kehadirannya. Namun, seperti yang sudah ia duga, sambutan pertama yang ia terima adalah tawa sinis dari meja barisan depan."Ya ampun, lihat sepatunya!" pekik Siska, langsung menunjuk ke arah kaki Rani. "Jelantah, kamu habis mengorek tempat sampah mana lagi semalam? Lem kuningnya sampai meluber begitu! Gembel sekali!"Hilda, yang sedang memutar pensil mahalnya, tertawa paling keras. "Sudah kubilang kan, Siska? Bau minyak bekasnya saja sudah bikin mual, sekarang ditambah sepatu hasil pungutan dari selokan. Hei, Jelantah! Kalau kamu tidak punya uang, ibuku bisa mempekerjakanmu untuk mengelap debu di kaca mobil kami!"Rani tidak menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke mata Hilda, membiarkan keheningan yang dingin menjadi tamengnya."Kaca mobil ibumu tidak akan p
Read more