"Tangisi terus mayat suamimu itu, Sinta! Menjeritlah sampai suaramu habis! Tapi ingat, air matamu itu tidak akan bisa dipakai untuk membayar tagihan ambulans, tenda pelayat, dan biaya gali kubur hari ini!"Suara melengking Tante Riska membelah udara ruang tamu yang masih menyisakan aroma kapur barus dan melati. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada empati.Sinta, yang masih mengenakan kerudung hitam lusuhnya, mendongak dengan mata bengkak kemerahan. "Mbak Riska... Mas Seno baru saja diturunkan ke liang lahat. Tanah kuburnya bahkan belum kering. Teganya Mbak berteriak menagih uang di saat kami sedang hancur?""Tega? Justru suamimu yang tidak punya otak, Sinta!" Tante Riska berkacak pinggang, menatap hina ke sekeliling rumah sederhana berlantai ubin kusam itu. "Mati mendadak akibat kecelakaan, lalu meninggalkan utang lima puluh juta padaku! Kalau bukan karena aku yang menalangi biaya rumah sakit dan pemakaman hari ini, jenazah Seno sudah membusuk di kamar mayat karena kalian tidak punya
Huling Na-update : 2026-05-25 Magbasa pa