Di bawah cahaya rapuh sebatang lilin itu, Rani menatap wajah ibunya. Hatinya seperti diremas tangan raksasa tak kasat mata. Cahaya lilin menyorot tegas seberapa kurus dan kelelahannya Sinta saat ini. Punggung baja yang selama ini menopang hidup Rani itu tampak begitu rapuh, siap hancur kapan saja.Sinta terbatuk lagi, kali ini lebih keras. Ia memegangi dadanya, berusaha meredam suara batuk agar tak terdengar sampai ke telinga Bu Tejo di sebelah."Ibu duduk sekarang. Tinggalkan wajan itu," perintah Rani absolut, suaranya tak menyisakan ruang untuk bantahan. Ia menarik kursi kayu reyot dan menuntun ibunya duduk."Ibu masih bisa ngaduk bumbunya, Rani..." tolak Sinta parau, napasnya berembus panas. "Kalau nggak dipanasin bener-bener, besok—""Besok adalah urusan besok!" potong Rani cepat, matanya menatap tajam ibunya di keremangan. "Aku ini bukan ahli nujum, Bu. Tapi melihat pupil mata Ibu yang melebar, keringat dingin, dan napas pendek ini, anak SD pun tahu Ibu sedang demam tinggi. K
อ่านเพิ่มเติม