Matahari pagi menyorot tajam, menguliti ketegangan yang mendidih di perempatan gang kumuh itu. Sinta berdiri mematung. Amplop putih berisi uang tiga ratus empat puluh ribu rupiah hasil pertaruhan nyawa putrinya semalam, kini terasa seperti bom waktu di tangannya. Di sekelilingnya, delapan ibu-ibu PKK memasang barikade, menatapnya dengan sorot mata menghakimi yang lebih tajam dari sembilu."Mana buktinya aku menggoda suamimu, Bu Inah?!" Suara Sinta bergetar, namun ia melangkah maju menantang wanita pemilik warung kelontong itu. "Aku ini janda, tapi aku masih punya harga diri! Jangan karena aku miskin, kalian bebas menginjak kehormatanku di tengah jalan seperti ini!""Buktinya? Buktinya ada di tanganmu itu, Sinta!" Tante Riska menunjuk dengan kuku merah menyalanya ke arah amplop putih yang digenggam Sinta. Senyum iblisnya melebar, menikmati mahakarya fitnah yang ia susun sejak semalam. "Kemarin siang kamu menangis mengiba di sekolah karena tidak sanggup bayar SPP Rani. Lalu tiba-tiba,
อ่านเพิ่มเติม