Dalam kotak itu, terbaring beberapa lembar foto berlatar sebuah motel bertarif fantastis. Di sana, Andra tampak memangku seorang perempuan di atas bathtub, seolah-olah mereka sedang mandi bersama. Namun, yang membuat dadanya kian perih adalah sosok perempuan di dalam foto itu—Melinda. Dadanya bergemuruh. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan tatapan tak percaya. Anehnya, air mata yang biasanya begitu gampang tumpah justru menghilang tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah tatapan kosong—sebuah pertanda bahwa luka kali ini sudah menembus batas rasa sakit biasa. Ia menelan ludah dengan kasar. Jemarinya meremas foto-foto itu sebelum melemparnya kembali ke dalam kotak. Tanpa membuang waktu, ia mengambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor. "Mel, ketemu yuk di kafe biasa!" ucapnya langsung pada sang sahabat, tanpa basa-basi seperti yang biasa ia lakukan. "Na? Tapi kamu baru aja pulang, kan? Gimana keadaanmu, apa udah baikan?" suara Melinda di seberang sa
Read more