"Gak ada siapa-siapa, tapi..." lirih Bianca saat mengedarkan pandangan ke depan. Ia hanya terkejut saat melihat serpihan pecahan gelas kaca yang terkapar berantakan di atas lantai batu taman. "Duh, kok jadi merinding gini, sih..." ucapnya lagi sambil menelan ludah kasar. Tangan kanannya refleks mengusap tengkuk lehernya yang mendadak terasa dingin, berusaha keras mengusir rasa takut yang tiba-tiba merayap. "Aduh, kok jadi seram gini ya auranya. Udah ah, mau ke depan lagi aja!" lirihnya ketakutan, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berlari terbirit-birit kembali ke aula depan. Di balik bayangan tembok yang gelap gulita, Renjana melotot tajam. Mereka berdua tengah bersembunyi dengan posisi tubuh Renjana sepenuhnya dihimpit oleh tubuh kekar Naren. Mulut Renjana dibekap erat oleh tangan besar pria itu, menahan jeritan yang hampir saja lolos dari bibirnya. Bagaimana tidak, dalam posisi seintim itu, sesuatu milik Naren yang menegang begitu jelas terasa menekan permukaan pe
더 보기