"Bukan cuma kamu yang rindu, Na... Aku jauh lebih rindu," bisik Naren lembut. Suara berat pria itu bergetar, sarat akan kerinduan yang selama ini tertahan rapat. Tatapan matanya begitu hangat dan dalam, seolah sanggup menyerap seluruh ketakutan, rasa sakit, serta kepedihan yang membelenggu Renjana. Di dalam ruangan vila yang tenang itu, kehadiran Naren secara ajaib membawa kedamaian yang amat langka—sebuah rasa aman dan nyaman yang belum pernah Renjana dapatkan selama bertahun-tahun terjebak dalam kepalsuan rumah tangganya. Tangan Naren yang kekar terangkat perlahan, membelai lembut helai demi helai rambut Renjana yang harum. Usapan itu begitu teratur, membuat Renjana spontan memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang menenangkan. Namun, saat tatapan Naren turun dan mengunci pada belahan bibir Renjana yang sedikit terbuka, ingatan-ingatan itu mendadak berkelebat hebat di kepalanya. Bayangan saat dirinya memberikan kepuasan, memanjakan, dan membawa wanita itu ke punc
Read more