Alya menarik napas panjang dalam diam, mencoba meredam rasa penat yang kian terasa di tubuhnya. Ia sama sekali tidak mengambil hati setiap hinaan murahan yang keluar dari mulut Bu Dianti. Ia sudah terlalu lelah, dan manusia-manusia berhati sempit seperti wanita di hadapannya tidak layak mendapatkan satu detik pun emosi darinya. Namun, belum sempat Alya berbalik untuk meninggalkan mereka, Bu Dianti kembali melangkah maju, memasang wajah angkuh seolah sedang memegang kendali dunia, lalu menunjuk-nunjuk dada Alya dengan jari telunjuknya. "Dengar ya, Alya!" ucap Bu Dianti dengan nada memperingatkan yang sangat tajam. "Meskipun sekarang kamu melarat, jadi janda telantar, atau pengangguran di kota ini, jangan pernah coba-coba berniat mendekati anak saya lagi! Sadar diri sedikit! Hendra anak saya sekarang sudah beda kelas!" Bila, adik Hendra, ikut menimpali dengan senyum mengejek yang tak kalah menyebalkan. "Iya, Kak Alya! Jangan berani-berani cari perhatian ke Kak Hendra lagi ya. Seka
Read more